Sekilas PKPA di Puskesmas

Standar

Tanggal 3 hingga 15 September 2012, aku melaksanakan kewajiban sebagai mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker (PSPA) Farmasi UGM yaitu Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Puskesmas Bambanglipuro, Bantul. PKPA di puskemas adalah PKPA kedua yang aku jalani, setelah pada bulan Agustus aku melakukan praktek di Rumah Sehat & Apotek UGM. Banyak yang bertanya mengapa mahasiswa PSPA Farmasi UGM harus PKPA di puskesmas, apalagi sebagian besar lokasi puskesmas jauh dari kampus dan ada yang berjarak lebih dari 30 km.

Pertanyaan di atas baru terjawab ketika aku melihat Profil Data Kesehatan Indonesia tahun 2011 yang diterbitkan Kementerian Kesehatan. Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa dari 9321 puskesmas di seluruh Indonesia hanya terdapat 2464 apoteker dan sarjana farmasi. Jika dipersempit lagi, di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), apoteker dan sarjana farmasi yang mengabdi di 121 puskesmas hanya berjumlah 16. Dengan asumsi, 1 puskesmas 1 apoteker dan sarjana farmasi, berarti masih ada 105 puskesmas yang belum terjamah. Jumlah apoteker yang mengabdi di puskesmas DIY, mungkin lebih sedikit lagi, karena data tersebut menggabungkan apoteker dengan sarjana farmasi. Padahal, kedudukan antara apoteker dengan sarjana farmasi berbeda. Sarjana farmasi merupakan tenaga teknis kefarmasian yang bertugas membantu apoteker dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian.

Menurut PP 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, puskesmas merupakan salah satu fasilitas pelayanan kefarmasian yang di dalamnya harus terdapat apoteker. Oleh karena itu, keberadaan apoteker di puskesmas adalah mutlak harus ada dan tidak dapat diganggu gugat. Kampusku sebagai pendidikan tinggi farmasi tertua di Indonesia berusaha melaksanakan amanat dari PP tersebut dengan mengirimkan mahasiswa terbaiknya untuk mengabdi di sana.

Awal mula PKPA di puskemas justru diinisiasi oleh Farmasi Universitas Airlangga (Unair) pada tahun ajaran 2009-2010 yang dalam pelaksanaannya bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Persiapan yang dilakukan Farmasi Unair dimulai pada Mei 2009, beberapa bulan sebelum PP 51 tahun 2009 ditetapkan pada 1 September 2009. Selanjutnya, pada 19 Juni 2010 Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI) mengesahkan Standar Praktek Kerja Profesi Apoteker (SPKPA) yang baru. Dalam SPKPA tersebut secara tersurat disebutkan puskesmas sebagai salah satu tempat PKPA selain apotek, industri, rumah sakit, dan fasilitas distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan (Lampiran 1). Bobot PKPA di puskesmas minimal 1 SKS yang setara dengan 8 jam perhari selama 1 pekan. Seiring berjalannya waktu, hingga saat ini sudah ada beberapa pendidikan tinggi farmasi yang menyelenggarakan PKPA di puskesmas seperti Unair, UGM, Universitas Setia Budi, dan Universitas Udayana.

UGM menyelenggarakan PKPA di puskesmas sejak Februari 2012 dan waktunya hanya 1 pekan. Setelah berjalan hingga 4 bulan, diadakan evaluasi antara mahasiswa dengan pengelola PSPA. Sebagian besar saran yang masuk yaitu waktu PKPA di puskesmas terlalu sedikit, sehingga ilmu dan pengalaman yang didapatkan belum maksimal. Pada akhirnya disepakati bahwa waktunya ditambah menjadi 2 pekan dan keputusan ini mulai berlaku pada Agustus 2012. Puskesmas yang menjalin kerja sama dengan Farmasi UGM berjumlah 11 puskesmas yang tersebar di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Puskesmas yang berada di Kota Yogyakarta yaitu Gedongtengen, Jetis, Mergangsan, Tegalrejo, dan Umbulharjo 1. Sedangkan yang terletak di Kabupeten Bantul yaitu Sewon 1, Imogiri 1, Bambanglipuro, Srandakan, Piyungan, dan Jetis 1.

Agar pelaksanaan PKPA di puskesmas berjalan dengan baik dan lancar, pengelola PSPA menyusun jadwal dan materi kegiatan selama PKPA. Saat aku PKPA di Puskesmas Bambanglipuro, apoteker di sana (Listyas Wijayanti, S.Far., Apt.) juga sudah menyusun daftar kegiatan, sehingga semakin memudahkan aku untuk menyerap ilmu dan pengalaman. Kegiatan PKPA di puskesmas yang sudah aku gabung dari 2 sumber terdapat dalam Lampiran 2.

Setelah mengamati dan merasakannya sendiri, aku mempunyai keyakinan bahwa peran apoteker di puskesmas tidak sedikit. Menurutku, apoteker di puskesmas adalah gabungan dari setengah apoteker di apotek dan setengahnya lagi berasal dari rumah sakit milik pemerintah, karena mengurusi pengelolaan obat mulai dari perencanaan hingga tahap distribusinya serta harus berurusan dengan administrasi birokrasi seperti pencatatan, pelaporan, dan pengarsipan. Secara garis besar, apoteker di puskesmas memiliki peran sebagai berikut:

  1. Pelayanan obat (PIO, konseling, visite).
  2. Penanggung jawab gudang dan administrasi obat puskesmas.
    • Merencanakan kebutuhan obat sesuai pola kebutuhan obat.
    • Melaksanakan penerimaan dan penyimpanan obat.
    • Melaksanakan distribusi obat ke puskesmas pembantu dan puskesmas keliling.
    • Mengadakan BMHP (Bahan Medis Habis Pakai) yang belum didanai atau kurang dari kabupaten.
    • Mengadakan penyuluhan.
    • Pencatatan dan pelaporan.
    • Menganalisis pengobatan rasional.
    • Menganalisis penggunaan obat generik.

Berdasarkan Pedoman Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas yang disusun oleh Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan tahun 2006, kompetensi apoteker di puskesmas yaitu:

  1. Mampu menyediakan dan memberikan pelayanan kefarmasian yang bermutu.
  2. Mampu mengambil keputusan secara profesional.
  3. Mampu berkomunikasi yang baik dengan pasien maupun profesi kesehatan lainnya dengan menggunakan bahasa verbal, nonverbal, maupun bahasa lokal.
  4. Selalu belajar sepanjang karier baik pada jalur formal maupun nonformal, sehingga ilmu dan ketrampilan yang dimiliki selalu baru (up to date).

Harapanku, suatu saat nanti akan semakin banyak pendidikan tinggi farmasi yang mengirimkan mahasiswanya ke puskesmas, sehingga mereka mengenal puskesmas dan pada akhirnya mau mengabdi di sana. Semoga…

Jakarta, 2 Oktober 2012

Lampiran 1. PKPA di Puskesmas

I. Tujuan PKPA

  1. Meningkatkan pemahaman calon apoteker tentang peran, fungsi dan tanggung jawab apoteker dalam praktek pelayanan kefarmasian di puskesmas.
  2. Membekali calon apoteker agar memiliki pengetahuan, ketrampilan, sikap perilaku (professionalims) serta wawasan dan pengalaman nyata (reality) untuk melakukan praktek profesi dan pekerjaan kefarmasian di puskesmas.
  3. Memberi kesempatan kepada calon apoteker untuk melihat dan mempelajari strategi dan pengembangan praktek profesi apoteker di puskesmas.
  4. Memberi gambaran nyata tentang permasalahan (problem-solving) praktek dan pekerjaan kefarmasian di puskesmas
  5. Mempersiapkan calon apoteker agar memiliki sikap-perilaku dan profesionalisme untuk memasuki dunia praktek profesi dan pekerjaan kefarmasian di puskesmas.
  6. Memberi kesempatan kepada calon apoteker untuk belajar berkomunikasi dan berinteraksi dengan tenaga kesehatan lain yang bertugas di puskesmas.
  7. Memberikan kesempatan kepada calon apoteker untuk belajar pengalaman praktek profesi apoteker di puskesmas dalam kaitan dengan peran, tugas, dan fungsi apoteker dalam bidang kesehatan masyarakat

II. Manfaat PKPA

  1. Mengetahui, memahami tugas dan tanggung jawab apoteker dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian di puskesmas.
  2. Mendapatkan pengalaman praktis mengenai pekerjaan kefarmasian di puskesmas
  3. Mendapatkan pengetahuan manajemen praktis di puskesmas.
  4. Meningkatkan rasa percaya diri untuk menjadi apoteker yang profesional.

III. Kompetensi yang akan dicapai

  1. Mampu menyusun rencana pengembangan praktek kefarmasian yang berorientasi pada pelayanan kefarmasian.
  2. Mampu membuat keputusan profesi pada pekerjaan kefarmasian di puskesmas berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi, standar praktek kefarmasian, perundang-undangan yang berlaku, dan etika profesi farmasi.
  3. Mampu mempraktekkan pelayanan kefarmasian agar tercapai tujuan terapi bagi penderita di puskesmas.
  4. Mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan pasien, masyarakat, dan tenaga kesehatan lain.
  5. Mampu menyusun rencana pengelolaan perbekalan farmasi dan alat kesehatan serta pengembangan sumber daya manusia.

IV. Materi PKPA

  1. Organisasi puskesmas
  2. Pengelolaan perbekalan farmasi di puskesmas
  3. Peran fungsional apoteker :
    • Pelayanan informasi obat dan konseling
    • Farmakoekonomi
    • Pelayanan farmasi rawat jalan dan rawat inap
    • Edukasi kepada masyarakat sekitar melalui penyuluhan dan poster

V. Evaluasi dan Penilaian

  1. Evaluasi dilakukan oleh dosen pembimbing dan preseptor dalam bentuk evaluasi praktek dan ujian komprehensif apoteker
  2. Penilaian
    • Nilai praktek dari nilai pembimbing dan preseptor : 50%
    • Nilai ujian komprehensif : 50%

Lampiran 2. Kegiatan PKPA di Puskesmas

I. Pembekalan

  1. Kebijakan obat di puskesmas
  2. Profil dan struktur organisasi puskesmas
  3. Peran apoteker di puskesmas
  4. Pengelolaan obat di puskesmas
  5. Pelayanan kefarmasian di puskesmas

II. Stage di gudang farmasi puskesmas

  1. Pemeriksaan dan pencatatan obat masuk
  2. Tata letak gudang farmasi
  3. Sistem penyimpanan di gudang farmasi
    • Problem penyimpanan
    • Obat mendekati kadaluarsa, kadaluarsa, dan rusak
    • Stok mati

III. Stage di pelayanan obat rawat jalan

  1. Alur pelayanan resep
  2. Skrining resep
    • Administratif
    • Farmasetis
    • Klinis
    • Drug Related Problem (DRP) potensial
    • Penulisan etiket
  3. Evaluasi pelayanan resep rawat jalan
    • Penulisan resep di luar daftar obat dan pengatasannya
    • Pemberian informasi obat
    • Waktu tunggu pelayanan resep
    • Kepuasan pasien

IV. Stage di pelayanan obat rawat inap

  1. Alur pelayanan resep
  2. Sistem distribusi obat (Individual Prescription, Floor Stock, One Daily Dose)
  3. Skrining resep
    • Administratif
    • Farmasetis
    • Klinis
    • DRP potensial
    • Penulisan etiket
  4. Visite mandiri dan bersama dokter

V. Pusat Informasi Obat (PIO) dan praktek konseling

  1. Membuat media informasi obat (leaflet, poster)
  2. Konseling pasien rawat jalan
  3. Konseling pasien rawat inap

VI. Pencatatan dan pelaporan

  1. Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO)
  2. Kartu stok
  3. Faktur obat dari Gudang Farmasi Kabupaten (GFK)

VII. Monitoring

  1. Penggunaan Obat Rasional (POR) ispa non pneumonia, myalgia, diare non spesifik
  2. Pemantauan penggunaan obat generik

 

 

 

About these ads

8 responses »

  1. numpan koment yah kakaaakk……memang banyak hal yg dapat dilakukan oleh seorang apoteker d puskesmas,,,namun kembali ke diri kita sendiri…apakah kita siap ditempatkan d puskesmas???apalagi kan puskesmas itu identik dengan daerah pedalaman karena d perkotaan besar pasien cenderung memilih ke rumah sakit langsung, dimana fasilitas kesehatan lebih lengkap….

    dan bagaimana pula tanggapan dari tenaga kesehatan lain yang lebih dahulu “mengambil” peranan terhadap obat karena dulu belum ada apoteker yang masuk puskesmas (apalagi di daerah pedalaman),,,,alhamdulilah klo respon mereka positif. klo tidak??

    makasih ya kakak atas lapaknya…hee

    • temen2ku yang pkpa di puskesmas kota yogyakarta, rata-rata 1 harinya, ada sekitar 180 pasien yang datang & resepnya 110an…
      jumlah resep segitu, justru lebih banyak daripada aq lho..,
      bagaimana coba?
      tanggapan dari nakes lain? kalau memang itu ranah kita, kenapa harus khawatir? toh yang kita lakukan ini memang dilindungi oleh undang-undang…

  2. namun yang saya rasakan di puskesmas ketika saya berpartisipasi disana (waktu KKN) iyah seperti itu…ada nakes yang respon nya gx welcome githu….iyah kan itu lah yg jadi tantangan kita…..kemudian apakah apoteker yang ada akan siap ditugaskan d puskesmas seperti layaknya nakes laen yg udah ditugaskan tiap puskesmas….itulah asyiknya mengabdi pada masyarakat…. :-)
    gx semua apoteker berpikiran seperti itu…jd sebaiknya sih dari kita sendiri dulu perlu disadarkan akan pentingnya hal ini…semagadhh !!!

    • siap ga siap, harus siap dong… apoteker yang ada di puskesmas, kan termasuk PNS, jadi siap ditempatkan di mana aja…
      mulai dari diri sendiri, mulai dari hal sederhana, mulai dari sekarang… :-D

  3. Assalammualaikum wr wb. Perkenalkan saya Raditya mahasiswa PSPA UNAIR yang sebentar lagi juga akan PKP. terimakasih atas tulisan ini, karena sedikit banyak saya juga mendapatkan gambaran PKP di puskesmas. Oh iya, saya ingin bertanya, di UGM apakah ada penjurusan mahasiswa sesuai minat industri dan RS? atau semua mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk PKP di keduanya? terimakasih sebelumnya.

    • Wa’alaikumsalam…
      Di profesi,ada 2 minat,yaitu industri & rumah sakit… Kedua minat,pkpa di apotek&puskesmas… Sedangkan pkpa di industri hanya utk yg minatnya industri,begitu jg dgn pkpa di rumah sakit yg khusus utk minat rumah sakit…
      Sukses utk pkpa-nya…

  4. Mau tanya, Mas…
    Semua Puskesmas yg jadi tempat PKPA kita itu ada fasilitas rawat inapnya kah? Kl iya, peran kita dlm menangani pasien rawat inap spt apa y? Soalny denger2 Apt jg ikut visite pasien…

    • saya tidak tahu, apakah sudah semuanya atau belum… tapi, sebagian besar puskesmas sudah ada rawat inapnya, terutama di Bantul…
      kebetulan, saya sempat ikut visite pasien 2 kali… yang dilakukan saat itu, (hanya) melihat catatan pengobatan pasien (bagian penggunaan obat)… setelah visite, saya diskusi dgn dokter mengenai rasionalitas penggunaan obat, karena ada penggunaan antibiotik yang tidak tepat…
      ketika visite, memang dokter lebih “berkuasa”, termasuk dalam menentukan berapa kali infus menetes (inget farmakokinetika klinik kan?)… tetapi, mengenai penggunaan obat, masih ada komunikasi antara dokter dengan apoteker…
      sukses untuk pkpa-nya fifi…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s