Anggapan Mereka Salah

Standar

catatan: Tulisan ini dibuat untuk event Wikumagic Magic and My Life Part 2 dan ditampilkan di wikumagic.org (The first online magic resource in Indonesia) pada April 2011. Ternyata, tulisan ini juga dicopy oleh 2 blog sulap, dengan menyertakan sumbernya tentu saja. Inilah pendapat dari Wikumagic tentang tulisan ini, Sebuah cerita tentang bagaimana perjuangan seorang magician, dimulai dari nol hingga mampu tampil di berbagai kontes sulap serta mengubah pandangan orang lain tentang magic. Sangat layak untuk dicontoh.

Seni magic bukanlah dunia yang baru bagi saya. Sejak kecil, saya sering menonton pertunjukan magic di televisi. Namun, pada saat itu belum ada niat untuk mendalami seni ini. Baru setelah tayangnya acara “The Master” di stasiun televisi swasta dan banyak sekali bermunculan magician di tanah air, membuat saya tertarik untuk menekuni magic terutama yang berkaitan dengan mentalism dan mathemagic.

Tidak ada garis keturunan magician yang mengalir dalam darah saya dan tidak adanya teman yang mampu menjadi guru, menyebabkan internet menjadi tempat belajar saya. Melalui video, e book, bahkan web seperti wikumagic menjadi sarana menghilangkan rasa haus saya dalam mempelajari magic. Ternyata, butuh perjuangan yang sangat besar untuk mendalami magic. Selain karena kesibukan akademik yang menguras waktu dan tenaga, kondisi di sekitar saya juga kurang mendukung. Menurut teman-teman saya, magic bukanlah sesuatu yang menakjubkan dan menganggap musik, tari, dan seni yang lainnya lebih hebat. Situasi seperti itu, justru malah menjadi tantangan bagi saya untuk lebih belajar dan membuktikan bahwa anggapan mereka salah.

Akhirnya tibalah saat di mana saya bisa membuktikannya. Pada bulan Oktober 2010 dalam rangka ulang tahun kampus saya (Farmasi UGM), fakultas mengadakan ajang pencarian bakat yang dibuka untuk mahasiswa se-fakultas, yaitu “Farmasi Mencari Bakat”. Seakan-akan mendapatkan kesempatan untuk unjuk gigi, saya mendaftarkan diri untuk mengikutinya. Ketika pendaftaran, saya sengaja tidak memberitahu apa yang akan ditampilkan. “Tunggu aja tanggal mainnya”, kata saya pada waktu itu. Hari yang ditunggu akhirnya datang dan saya sangat yakin dengan permainan saya di atas panggung.

Pada waktu itu, saya menampilkan mathemagic yang dimodifikasi dengan menggunakan prediksi yang muncul pada buku kuliah. Pertunjukan yang cukup menghibur penonton dan juri, walaupun saya belum berhasil menjadi pemenang. Akan tetapi, saya berhasil membuktikan kalau magic adalah seni yang layak untuk diperhitungkan dan tidak kalah dengan yang lain, bahkan lebih baik, karena mampu menggabungkan banyak unsur seperti musik, tari, psikologi, dan lain sebagainya. Hal lain yang menarik, yaitu saya menemukan nama panggung yang terdengar simpel tapi mempunyai cerita di baliknya. Nama panggung tersebut merupakan nama senyawa yang berhasil saya prediksi yang terdapat dalam buku kuliah, yaitu “Morfin HCl”.

Kesempatan kedua untuk membuktikannya lagi datang di bulan Desember 2010. Universitas saya (UGM) mengadakan ajang pencarian bakat juga, tapi ruang lingkupnya lebih luas, yaitu mahasiswa se-Kota Yogyakarta yang diberi nama “University Got Talent”. Dengan persiapan yang lebih matang, seperti menyiapkan logo “Morfin HCl” dan konsep pertunjukan yang lebih kompleks dan sulit, saya mengikuti ajang tersebut. Alhamdulillah, saya terpilih sebagai grand finalis dan berhak tampil di final. Yang lebih menggembirakan lagi, saya menjadi satu-satunya grand finalis yang menampilkan bukan musik, teatrikal, maupun tari.

Saat final, juri yang didatangkan bukan sembarang orang, yaitu Didik Nini Thowok (seniman dan budayawan), Bagus Jatmiko (Kepala Sekolah “Ahmad Dhani School of Rock” Yogyakarta), dan Moh. Ichsan Zulkarnaen (Musisi dan Art Director FTV). Konsep pertunjukan saya tetap berupa prediksi yang dikombinasikan dengan mathemagic, tapi yang spektakuler yaitu 1 hari sebelum pertunjukan, saya menulis prediksinya di notes Facebook. Lagi-lagi nasib baik belum berada di tangan saya, karena saya gagal merebut juara I maupun juara favorit menurut penonton. Tapi, teman-teman saya yang sebelumnya kurang tertarik dengan magic, datang untuk menonton pertunjukan dan mendukung saya. Tidak hanya itu, banyak sekali ilmu yang saya dapatkan, seperti bagaimana mempersiapkan segala sesuatu untuk pertunjukan bahkan sampai hal yang paling kecil, cara mengatur emosi diri sendiri, berkomunikasi yang baik dengan penonton, apa yang harus dilakukan ketika menghadapi kondisi yang tidak diharapkan (di tengah-tengah pertunjukan, mic yang digunakan saya dan sukarelawan mati), dan masukan-masukan lain yang diberikan oleh juri.

Itulah kisah perjalanan magic saya di tahun 2010 yang sangat berwarna. Banyak hal yang berkesan, namun yang paling berkesan yaitu saya berhasil membuktikan bahwa anggapan teman-teman saya salah karena magic itu menakjubkan.

Maju terus dunia magic Indonesia !!!

Yogyakarta, 26 Februari 2011

Nurul Hilalussodik Al Fauzani

Morfin HCl -pharmagician-

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s