Cetak Biru “ISMAFARSI adalah Lembaga Eksekutif Mahasiswa Farmasi”

Standar

Landasan Hukum :

  • Anggaran Dasar ISMAFARSI Bab III Tujuan dan Usaha, Pasal 6

Organisasi ini bertujuan mewujudkan lembaga eksekutif mahasiswa secara khususnya dan mahasiswa farmasi pada umumnya yang bertanggung jawab, sadar dan mampu dalam menjunjung tinggi norma dan etika profesi farmasi.

  • Anggaran Rumah Tangga ISMAFARSI Bab I Keanggotaan, Pasal 1

Anggota ISMAFARSI adalah Lembaga Mahasiswa Farmasi Strata 1 Perguruan Tinggi di Indonesia yang ditetapkan dalam MUNAS atau Sidang Khusus penetapan anggota yang dilaksanakan dalam setiap kegiatan nasional ISMAFARSI.

  • Anggaran Rumah Tangga ISMAFARSI Bab VIII Komisariat dan Komisaris

Pasal 26

Komisariat adalah badan otonom atau badan semiotonom atau merupakan bagian dari Lembaga Eksekutif Mahasiswa anggota ISMAFARSI yang dipimpin oleh komisaris

Pasal 27

1.  Tugas dan wewenang

1.1  Komisaris merupakan penanggung jawab ISMAFARSI di tingkat komisariat

1.2  Melakukan koordinasi terpadu dengan seluruh komisariat

1.3  Komisaris memiliki otoritas dan otonomi dalam hal kegiatan

1.4  Komisaris bertugas membantu Sekretaris Jendral dalam mengkoordinasikan pelaksanaan GBHO

2.  Pertanggungjawaban

2.1  Komisaris bertanggung jawab kepada Ketua Lembaga Eksekutif Mahasiswa farmasi yang bersangkutan atau mahasiswa farmasi di Institusi tersebut

2.2  Apabila terjadi pergantian komisaris, maka institusi tempat komisaris berasal harus menginformasikan pergantian tersebut kepada korwilnya secara tertulis

Melihat dari namanya, ISMAFARSI (Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia) merupakan suatu forum komunikasi, koordinasi, dan jaringan lembaga eksekutif mahasiswa farmasi seluruh Indonesia. Kata “senat” mengandung arti lembaga eksekutif mahasiswa, karena saat pergantian nama dari MAFARSI pada tahun 1981, lembaga eksekutif mahasiswa disebut senat.

Yang dimaksud dengan lembaga eksekutif mahasiswa yaitu BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan), ataupun Himaprodi (Himpunan Mahasiswa Program Studi).

Anggota dari ISMAFARSI adalah lembaga mahasiswa farmasi, hal ini berarti lembaga eksekutif mahasiswa farmasi. Mengapa lembaga eksekutif mahasiswa farmasi? Karena satu-satunya lembaga yang mampu menaungi seluruh mahasiswa farmasi adalah lembaga eksekutif mahasiswa farmasi, bukan badan otonom maupun badan semi otonom, apalagi hanya sekedar menjadi bagian dari lembaga eksekutif mahasiswa farmasi.

Hal ini dipertegas pada tujuan organisasi ISMAFARSI yaitu mewujudkan lembaga eksekutif mahasiswa secara khususnya dan mahasiswa farmasi pada umumnya, dst. Apakah mungkin badan otonom, badan semi otonom atau bagian dari lembaga eksekutif mahasiswa mampu mewujudkan tujuan tersebut? Jelas tidak.

Seandainya dalam suatu perguruan tinggi yang mempunyai lembaga eksekutif mahasiswa farmasi dan komisariat ISMAFARSI yang terpisah, menunjukkan bahwa telah terjadi dualisme kepemimpinan. Mengapa begitu? Karena komisaris yang merupakan penanggung jawab di tingkat komisariat mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan ketua lembaga eksekutif mahasiswa farmasi. Mulai dari penyusunan struktur, pelaksanaan program kerja, sampai pertanggungjawaban kepada mahasiswa farmasi.

Program kerja yang dilaksanakan oleh ISMAFARSI dilaksanakan juga oleh lembaga eksekutif mahasiswa farmasi. Sebagai contoh : ISMAFARSI melakukan pengabdian masyarakat dengan penyuluhan di desa binaan, lembaga eksekutif mahasiswa farmasi juga melakukannya melalui Departemen Sosial Masyarakat. ISMAFARSI mengadakan diskusi dan advokasi terkait isu keprofesian dan kesehatan, lembaga eksekutif mahasiswa farmasi melalui Departemen Kajian Strategis mempunyai kajian dengan tema yang sama. Untuk mencari dana, ISMAFARSI punya tim dana usaha, sedangkan lembaga eksekutif mahasiswa farmasi ada tim kewirausahaan. Apa ini tidak mubadzir? Dua lembaga yang terpisah mempunyai program kerja dengan sasaran dan tujuan yang sama, bahkan yang mengikutinya pun orang-orang yang sama.

ISMAFARSI merupakan suatu IOMS, di mana salah satu fungsinya sebagai organisasi pergerakan yang mengadvokasi kebijakan-kebijakan terkait keprofesian. Padahal, evaluasi internal memperlihatkan bahwa fungsi pergerakan pada ISMAFARSI sudah melemah. Sadar atau tidak, hal ini disebabkan karena sebagian besar mahasiswa yang aktif di ISMAFARSI bukanlah orang-orang pergerakan. Lalu, pertanyaannya sekarang, di manakah mahasiswa-mahasiswa yang paham dan mengerti tentang esensi dari pergerakan? Di lembaga eksekutif mahasiswa-lah jawabannya.

Oleh karena itu, sudah jelas bahwa sejak sekarang harus ada perubahan dalam posisi ISMAFARSI di masing-masing perguruan tinggi. Tidak lagi berdiri sebagai badan otonom, badan semi otonom, atau hanya menjadi bagian dari lembaga eksekutif mahasiswa farmasi tetapi terintegrasi ke dalam lembaga eksekutif mahasiswa farmasi secara penuh. Konsekuensi logisnya yaitu :

  • ISMAFARSI Komisariat merupakan lembaga eksekutif mahasiswa farmasi.
  • Ketua lembaga eksekutif mahasiswa farmasi secara otomatis merupakan komisaris ISMAFARSI di perguruan tinggi tersebut.
  • Staf lembaga eksekutif mahasiswa farmasi secara otomotis merupakan kader ISMAFARSI komisariat tersebut.

Bukan langkah yang mudah untuk melaksanakan perubahan tersebut. Pasti akan muncul banyak hambatan baik yang bersifat internal maupun eksternal. Hambatan-hambatan tersebut antara lain :

1.        Tidak ada data atau fakta yang menjelaskan posisi ISMAFARSI terhadap lembaga eksekutif mahasiswa farmasi

Berdasarkan sejarah terbentuknya ISMAFARSI sudah sangat jelas bahwa para pendiri ISMAFARSI merupakan aktivis bahkan ketua lembaga eksekutif mahasiswa farmasi pada saat itu. Sebagai contoh Sampurno (UGM) yang menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa Farmasi UGM. Hal ini menunjukkan bahwa ISMAFARSI sejatinya adalah forum koordinasi antar lembaga eksekutif mahasiswa farmasi seluruh Indonesia dan keanggotaannya berupa lembaga bukan individu.

2.        Ketua lembaga eksekutif mahasiswa tidak boleh rangkap jabatan (menduduki posisi puncak organisasi lain)

ISMAFARSI dan lembaga eksekutif mahasiswa farmasi merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Jadi, tidak ada rangkap jabatan di sana. Karena, ISMAFARSI merupakan forum koordinasi lembaga eksekutif mahasiswa farmasi seluruh Indonesia.

Jika dianalogikan dengan forkom ketua lembaga se-universitas, maka yang hadir di sana tentu ketua lembaga, bukan staf atau malah orang luar. Begitu juga dengan ISMAFARSI, sudah menjadi kewajiban yang terlibat di sana adalah ketua lembaga eksekutif mahasiswa farmasi.

Hal yang menggelikan, jika ketua lembaga eksekutif mahasiswa farmasi malah tidak tahu apa itu ISMAFARSI.

3.        Seandainya ISMAFARSI terintegrasi ke dalam lembaga eksekutif mahasiswa farmasi, maka eksistensi di internal perguruan tinggi tersebut akan tidak ada, karena nama yang terpampang adalah lembaga eksekutif mahasiswa farmasi bukan ISMAFARSI

Suatu organisasi dapat disebut eksis jika sering menampakkan jati dirinya atau diketahui oleh khayalak ramai (dalam hal ini civitas akademika). Terkait masalah ini, bisa disiasati dengan selalu memunculkan logo ISMAFARSI di setiap program kerja lembaga eksekutif mahasiswa tersebut, sehingga pada nantinya civitas akademika akan tahu apa itu ISMAFARSI. Selain itu, dengan mengambil momentum OSPEK, dapat juga dijadikan sebagai ajang pengenalan ISMAFARSI kepada mahasiswa baru.

Untuk eksistensi ke masyarakat luas, caranya yaitu dengan menyelenggarakan agenda yang bekerja sama dengan komisariat lain, sehingga syiar ISMAFARSI akan lebih terasa dan mengena.

4.        ISMAFARSI mempunyai alur kaderisasi, sedangkan lembaga eksekutif mahasiswa juga punya

Setiap organisasi pasti mempunyai alur kaderisasi yang jelas dan terarah. Begitu juga dengan ISMAFARSI yang memiliki LK 1 yang dilaksanakan pada tataran komisariat, LK 2 pada tingkat wilayah, dan LK 3 pada tingkat nasional. Sementara itu, lembaga eksekutif mahasiswa juga pasti memilikinya. Lalu, apakah ada korelasi antara alur kaderisasi ISMAFARSI dan lembaga eksekutif mahasiswa? Jelas ada.

Ternyata materi-materi yang terdapat pada LK 1 mempunyai kemiripan dengan materi up grading pada lembaga eksekutif mahasiswa. Saat BEM KMFA UGM terpisah dengan ISMAFARSI Komisariat UGM, hal ini menjadi polemik yang panjang, karena WD III tidak menyetujui adanya LK 1 di Komisariat UGM dengan alasan materinya sudah ada pada up grading BEM.

Hal yang berbeda pada LK 1 dengan up grading lembaga eksekutif mahasiswa yaitu pada materi ke-ISMAFARSI-an. Oleh karena itu, kesimpulan yang didapatkan yaitu :

Up grading lembaga eksekutif mahasiswa + materi ke-ISMAFARSI-an = LK 1 ISMAFARSI

Kaderisasi tidak hanya berhenti pada tahap pembentukan kader (LK), tapi juga berlanjut pada tahap pengkaryaan dan penjagaan kader. Dengan terintegrasinya ISMAFARSI ke dalam lembaga eksekutif mahasiswa, kedua tahapan tersebut akan lebih mudah untuk dijalankan. Pada tahap pengkaryaan kader, dapat dilaksanakan dengan pemberdayaan kader pada program kerja lembaga eksekutif mahasiswa tersebut. Sedangkan pada tahap penjagaan, juga lebih mudah karena lembaga eksekutif mahasiswa pasti mempunyai PSDM yang bertugas untuk melakukan kontrol, monitor, dan evaluasi kinerja kader.

Efek yang timbul yaitu, kader-kader yang ada dapat diawasi dengan baik, sehingga kader yang dipersiapkan untuk menjalani LK 2 di tingkat wilayah akan lebih siapdan bukan kader karbitan.

5.        Tidak semua kader ISMAFARSI merupakan anggota lembaga eksekutif mahasiswa

Keadaan ini dialami oleh ISMAFARSI Komisariat UGM pada awal-awal proses integrasi ini. Untuk menanggapi keadaan tersebut, yang dilakukan yaitu dengan metode membagi kader menjadi dua bagian, berupa kader struktural dan kader kultural. Kader struktural yaitu kader yang masuk atau merupakan staf BEM, sedangkan kader kultural merupakan kader yang tidak menjadi staf BEM.

Pada kader struktural, mereka wajib untuk terlibat aktif dalam setiap agenda lembaga eksekutif mahasiswa (ISMAFARSI Komisariat) dan tataran wilayah. Sedangkan pada kader kultural, mereka diberitahu dan dipersilakan untuk membantu ataupun mengikuti agenda tersebut, tetapi tidak wajib.

Ketika seluruh kader kultural telah selesai masa baktinya atau purna tugas, maka metode pembagian ini telah berakhir dan tidak ada lagi yang namanya kader struktural dan kader kultural. Hal yang paling penting pada metode ini yaitu bagaimana memahamkan proses integrasi kepada kader kultural agar tidak terjadi salah pengertian.

Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam melaksanakan proses integrasi ini :

1.        Mengubah AD ART ISMAFARSI yang tidak sesuai dengan konsep ini, terutama pada ART Bab VIII Pasal 26 melalui pengajuan rekomendasi pada Pramunas ISMAFARSI.

2.        Melakukan komunikasi dengan sekjend ISMAFARSI, staf ahli, korwil, dan komisariat lain terkait konsep ini.

3.        Mengenalkan dan memahamkan keberadaan, fungsi, urgensi, dan jati diri ISMAFARSI kepada seluruh staf lembaga eksekutif mahasiswa farmasi termasuk ketuanya (jika ISMAFARSI masih terpisah atau berbentuk badan .otonom / semi otonom).

4.        Mengajak ketua lembaga eksekutif mahasiswa farmasi utnuk berpartisipasi aktif dalam setiap event ISMAFARSI baik pada tingkat wilayah maupun nasional.

5.        Melakukan pendekatan kepada pembuat kebijakan di fakultas atau jurusan atau program studi agar mendukung konsep ini.

6.        Bertukar pengalaman dengan komisariat lain yang telah sukses melaksanakan konsep ini.

Kesimpulan :

  • Lembaga eksekutif mahasiswa farmasi = ISMAFARSI Komisariat
  • Ketua lembaga eksekutif mahasiswa farmasi = Komisaris ISMAFARSI
  • Staf lembaga eksekutif mahasiswa farmasi = Kader ISMAFARSI
  • Up grading staf lembaga eksekutif mahasiswa farmasi = LK 1 ISMAFARSI

 

 

Dari UGM untuk Indonesia, 1 Agustus 2010

Ketua BEM KMFA UGM 2010

Komisaris ISMAFARSI Komisariat UGM 2010

Nurul Hilalussodik Al Fauzani

07/255038/FA/07902

2 responses »

  1. hmm.. gaya tulisannya menggebrak niy… klo masalah struktural, sebenarnya ide ini boleh dipraktekkan.. tinggal ditimbang2 teknis pelaksanaannya.

    ada sedikit hal prinsip yang coba ingin mas komentari yakni
    “ISMAFARSI merupakan suatu IOMS, di mana salah satu fungsinya sebagai organisasi pergerakan yang mengadvokasi kebijakan-kebijakan terkait keprofesian.”

    ini yang membuat isma gak jelas.

    perhatikan kata2 advokasi, cermati dan renungkan, mampukah kita mengADVOKASI masalah kefarmasian sedangkan kalian para mahasiswa masih menjadi mahasiswa bukan farmasis. Mas bukan pengen mengkerdilkan mahasiswa, tapi klo mas bilang, ini hanyalah mimpi. Ide ini lah yang membuat BEM sekarang hancur lebur (baca BEM univ). Bermimpi untuk mengubah indonesia. Well, mimpi itu boleh, tapi……

    Klo sekedar membahas, berdiskusi dengan tujuan meningkatkan awareness mahasiswa terhadap isu2 kerofesian, itu sah2 aja, dan memang itulah posisi isma dalam menanggapi isu2 keprofesian. Bukan advokasi. klo masih malas untuk membuat bahasan ilmiah ttg isu2 keprofesian, maka bukan hanya mimpi tapi jauh panggang dari api, bila kalian ingin mengadvokasi kebijakan-kebijakan.

    “jangan selalu melihat ke atas kawan”

    maknanya, jgn pengennya cepet2 masuk ke ranah profesi. ISMA terlupa bahwa, kader kalian adalah mahasiswa dari tingkat 1 hingga 4. yang justru banyak maslah KEMAHASISWAAN FARMASI yang timbul didalamnya. Itu yang harus kalian perhatikan, advokasikan, berikan solusi.

    jgn bermimpi terlalu banyak, yang pada akhirnya tinggal dilandasan.

    So, ubah jalan pikiran, bukan atas kebawah tapi bawah ke atas. ISMA kuat oleh kader yang kuat so. perkuat kader. bukan sibuk mikirin gimana ngutak-ngatik kebijakan. lah wong apoteker sendiri belum mampu koq.

    kenapa? sebab apoteker ketika jadi mahasiswa farmasi kurang faham dengan masalah kefarmasian. So, tingkatkan kefahaman mahasiswa farmasi ttg isu farmasi. Tujuannya ketika dah jadi apoteker ato farmasis, bisa tetep terjaga kesadarannya dan mengadvokasikan. jadi bukan kalian. Perkuat idealisme selagi mahasiswa. caranya?? yeee.. masih nanya juga..

  2. mas jadi keinget..

    ada satu hal penting yang harus hilal tegaskan disini bahwa, tulisan tersebut bukanlah untuk pengertian ISMAFARSI nasional.

    karena klo ISMA nasional itu lebih ke badan koordinasi, tapi klo komisariat, mas sangat setuju untuk diintegrasikan ke lembaga eksekutif mahasiswa farmasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s