Apoteker Alih Jalur

Standar

Kuliah merupakan salah satu fase yang menentukan dalam hidup, sehingga banyak orang yang merasa yakin bahwa masa depannya akan cerah jika mampu melewatinya dengan hasil yang memuaskan. Tak terkecuali mahasiswa Farmasi UGM yang nantinya akan mendapatkan gelar apoteker.

Dalam PP 51/2009 disebutkan bahwa ranah kerja dari apoteker meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. Sungguh ranah kerja yang sangat luas, terlebih lagi ditambah dengan kesempatan bekerja di industri kosmetik dan makanan, pendidik, peneliti, pemerintahan, dan lain sebagainya.

Ternyata, sosok apoteker tidak hanya dijumpai dalam bidang yang masih berkaitan erat dengan jabatan fungsionalnya, tetapi ada juga yang alih jalur dan mencoba peruntungannya di bidang yang lain.

Nah, pada kesempatan kali ini, aku akan memberikan sedikit contoh sosok yang berbeda tersebut. Inilah di antaranya:

1.      Sampurno

Coba tanyakan kepada mahasiswa Farmasi UGM, siapa yang tidak mengenal sosok satu ini. Hampir semuanya mengenal dan mengetahui rekam jejaknya. Sejak SMA sudah tinggal di Yogyakarta dan lulus dari Farmasi UGM tahun 1977. Pengalaman organisasinya sangat banyak, seperti Ketua Umum KODEMA Farmasi UGM tahun 1972, Sekjend MAFARSI (cikal bakal ISMAFARSI) tahun 1972, dan diakhiri dengan Ketua I DEMA UGM tahun 1974. Karir beliau dimulai dengan menjadi tenga honorer di kantor Ditjen POM. Sempat 2 tahun menjadi Direktur Perencanaan dan Pengembangan Perum Biofarma, tetapi kembali lagi di POM dan menjabat Sekretaris Ditjen POM (1995-1998). Tahun berikutnya naik menjadi Dirjen POM selama 3 tahun dan terakhir menjadi kepala Badan POM sejak 31 Januari 2001. Aktivitas beliau saat ini sebagai dosen dan konsultan.

2.      Baharuddin Aritonang

Sosok yang kedua ini lahir di Padangsidempuan 7 November 1952. Beliau masuk Farmasi UGM tahun 1972 dan lulus apoteker pada tahun 1981. Pengalaman organisasi semasa kuliah sangat banyak, beberapa di antaranya yaitu Ketua SEMA Farmasi UGM tahun 1974-1976, Ketua DEMA UGM tahun 1976-1978, Ketua PB HMI tahun 1979. Sempat menjadi Asisten Dosen, akhirnya beliau “hijrah” ke dunia pemerintahan dimulai dari PNS Depkes, TU Menpora, Kantor Menpangan, dan Manggala BP 7 Pusat. Pada tahun 1999-2004, menjadi Anggota DPR/MPR, tahun 2001-2004 masuk Komisi IX DPR RI dari Partai Golkar, dan tahun 2004-2009 sebgai Anggota BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Aktivitas beliau saat ini sebagai penulis di media, antara lain: Kompas, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, dan Republika. Selain itu, beliau telah menghasilkan 5 judul buku hingga tahun 2003.

3.      Nurul Falah Eddy Pariang

Beliau salah satu alumni yang mampu membius aku ketika Inisiasi Kampus 2007. Saat itu, beliau menceritakan lika-likunya saat kuliah, bagaimana pengalaman beliau saat menjadi Ketua Kopma UGM tahun 1985-1987, sehingga terkadang harus bolos kuliah. Beliau masuk Farmasi UGM tahun 1981 dan lulus pada tahun 1987. Selepas kuliah, beliau bekerja di berbagai perusahaan, seperti PT Lepitek, PT Bursindo, dan PT Kimia Farma. Pada tahun 2004-2009, beliau menjadi anggota DPR RI Komisi IX dari Partai Amanat Nasional. Saat ini, beliau menjabat sebagai Sekjend PP IAI periode 2009-2013.

4.      Jamaludin Al Jamaludin Effendi

Beliau masuk Farmasi UGM tahun 1984 dan lulus apoteker pada tahun 1990. Dunia poltik dimulai sejak menjadi anggota Komisi II DPRD Kota Pekalongan 2004-2009 dari Fraksi Karya Keadilan. Pada awal Januari 2010, muncul wacana bahwa beliau akan mencalonkan diri sebagai Walikota Pekalongan periode 2010-2015, tetapi hal itu urung terjadi. Saat ini beliau menjabat sebagai Ketua PD IAI Jawa Tengah periode 2010-2014 dan Koordinator KBP (Kelompok Belajar Perkotaan) Kota Pekalongan.

5.      Cahyadi Takariawan

Sosok yang kerap dipanggil Ustadz Cah ini merupakan seorang dai, penulis, editor, trainer, konsultan, dan terjun di partai politik. Banyak sekali buku yang telah beliau tulis dan sebagian besar temanya mengenai dakwah dan keluarga. Beliau menjadi mahasiswa Farmasi UGM sejak tahun 1985 dan lulus pada tahun 1995. Ketika menjadi mahasiswa, beliau aktif di KMMF UGM, Senat Mahasiswa Farmasi UGM, HMI MPO, dan Jama’ah Shalahuddin UGM. Selain belajar ilmu farmasi, beliau juga mengenyam pendidikan agama di Pesantren Mahasiswa Budi Mulia, Pondok Pensantren Sabilul Khairat, maupun mengaji langsung kepada ustadz dan kyai di DIY dan Jateng. Berbagai macam pendidikan kepemimpinan, pelatihan, dan training sampai sekarang juga masih diikuti beliau. Istri beliau yang bernama Ida Nur Laela ternyata adik angkatan semasa kuliah.

6.      Imam Sujangi

Sosok berikutnya yaitu putra Tulung Agung yang pindah ke Yogyakarta ketika kuliah. Beliau masuk Farmasi UGM tahun 1987 dan lulus apoteker pada tahun 1996. Saat mahasiswa, beliau aktif di HMI MPO baik Komisariat Farmasi UGM, Cabang Yogyakarta bahkan pada periode 1992-1994 menjabat ketua departemen pada PB HMI. Setelah lulus, beliau menekuni bisnis apotek dan tercatat sebagai penggerak PT Bristol Myers Squibb pada tahun 1996-2004 dan salah satu pendiri BMT Surya Sembada dan BMT Dammai. Dalam dunia politik, beliau merupakan wakil Kabupaten Sleman di Komisi D DPRD DIY 2004-2008 dari Partai Amanat Nasional. Di lingkungan tempat tinggalnya, beliau dipercaya sebagai Ketua RT dan Pembina Takmir Masjid.

7.      Ariyadi Yunianto

Sosok yang terakhir tidak kalah hebat dengan 6 seniornya. Lulusan apoteker tahun 2008 ini berhasil meraih juara dalam ajang Shell LiveWIRE Business Start-Up Awards (BSA) 2011 dengan mengembangkan bisnis kecantikan lewat Cendani Spa. Omzet yang didapatkannya sekitar 25-30 juta per bulan, padahal bisnis baru secara resmi berdiri 2 Januari 2011. Selain itu, beliau juga menaylurkan beasiswa untuk 240 siswa dari SD hingga perguruan tinggi.

Alumni yang saat ini menjadi dosen Farmasi UGM tidak mau kalah dengan ketujuh sosok di atas. Beberapa di antaranya memiliki bisnis di luar bidang yang digelutinya, seperti Suwaldi Martodiharjo yang memiliki rumah makan padang dan Achmad Purnomo yang membangun SPBU di sepanjang jalan Kebumen, Solo, Yogyakarta.

Semoga sosok-sosok tersebut mampu menginspirasi, memotivasi, dan meyakinkan kita bahwa lulusan Farmasi UGM bisa berprestasi di bidang apa saja. Harapannya, suatu saat nanti tidak hanya Menteri Kesehatan yang bisa dijabat oleh lulusan Farmasi UGM, tetapi juga Bupati, Gubernur, bahkan Presiden dan tak lupa seorang wirausahawan… Aamiin…

Yogyakarta, 19 Desember 2011

2 responses »

  1. Ping-balik: Apotekerokok « —nurulhilalussodikalfauzani—

  2. Wah blogwalking nemu tulisan tentang saya. Sedikit tambahan mas. Ranah bisnis saya masih di bidang Farmasi. Hanya saja belum populer dikalangan temen-temen apoteker.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s