Laporan Pertanggungjawaban Ketua BEM KMFA UGM 2010 Kabinet Pengabdian

Standar

I.     Evaluasi Pelaksanaan Platform BEM KMFA UGM 2010

Lima karakter BEM KMFA UGM yang terdapat dalam visi, tentu bukan angan-angan kosong yang diharapkan akan muncul dengan sendirinya, tetapi membutuhkan perjuangan untuk mewujudkannya. Sebagai alat untuk merealisasikan karakter-karakter tersebut, dibuatlah enam misi dan haluan umum organisasi yang saling mendukung satu sama lain sebagai satu kesatuan. Inilah capaian-capaian tersebut :

1.  Membangun internal BEM KMFA UGM yang solid dan dilandasi semangat kebersamaan

Sebelum bergerak secara integral dan memiliki kesamaan pola pikir dalam internal lembaga, maka hal pertama yang ditanamkan yaitu rasa kebersamaan dan kekeluargaan. Melalui agenda upgrading PH dan staf, hal tersebut mampu ditanamkan kepada internal lembaga.

Namun, seiring berjalannya waktu kepengurusan, banyak gelombang yang dihadapi, sehingga menyebabkan terjadinya reshuffle di dalam kabinet dan staf yang mengundurkan maupun tidak aktif. Strategi yang dilakukan untuk menyegarkan lagi dan mengembalikan atmosfer yang kondusif di internal lembaga, maka diadakanlah agenda evaluasi tengah tahun dengan metode diskusi interaktif antara Ketua BEM dengan staf dan sesi curhat antar staf.

Untuk mempererat hubungan staf antar departemen/lemkar/biro maka disusunlah agenda yang merupakan agenda bersama, seperti diskusi bersama antara Advokasi dan Kastrat, training kewirausahaan yang dilaksanakan oleh PSDM dan Wirus, ikutnya LKLC dalam buletin Papyrus dan majalah Farsigama, dan lain sebagainya. Walaupun belum seluruh departemen/lemkar/biro mampu menyelenggarakan agenda bersama dan hanya kerja-kerja teknis yang dilakukan, namun ini merupakan salah satu sarana yang tepat untuk mempererat hubungan antar staf.

Ternyata, kondisi yang ideal tersebut, tidak sepenuhnya terjadi selama periode ini. Hal negatif yang tiba-tiba muncul yaitu berkurangnya rasa kepedulian PH maupun staf terhadap program kerja atau agenda dari departemen/lemkar/biro yang lain. Ketika departemen/lemkar/biro menyelenggarakan program kerja dan mengharapkan kedatangan dari departemen/lemkar/biro yang lain, staf yang datang sedikit. Situasi seperti ini, memang kerap muncul ketika staf mulai jenuh dengan aktivitas yang ada. Untuk itu, Ketua BEM berinisiatif untuk mengirimkan sms motivasi kepada seluruh staf dan Biro PSDM juga melakukan hal yang serupa.

Pembelajaran skill-skill keorganisasian dan kelembagaan diberikan melalui agenda PKMO (Pelatihan Ketrampilan Manajerial Organisasi) dan dengan pemberdayaan dan pengkaryaan staf di kepanitiaan besar (P2SMB, Dies Natalis, dan Semnas). Selain itu, pendelegasian beberapa staf di LKMMF 2 (Latihan Kepemimpinan Manajerial Mahasiswa Farmasi) ISMAFARSI dan PPB 4 (Pelatihan Pemimpin Bangsa) yang diadakan BEM KM UGM mampu memberikan ilmu dan gagasan yang baru kepada staf. Untuk periode kepengurusan yang berlangsung selama 1 tahun, sebenarnya metode pembelajaran seperti itu dirasa kurang.

Dalam hal administrasi kesekretariatan dan keuangan, terdapat banyak perbaikan dari periode sebelumnya, di mana sistem yang ada sekarang yaitu sentralisasi. Proposal dan surat-menyurat langsung dipegang dan dianalisis oleh Sekretaris Umum dan Bendahara Umum, sehingga mampu meminimalisir terjadinya kesalahan dan pengarsipan menjadi semakin rapi.

Program kerja yang dilaksanakan juga telah mempunyai indikator keberhasilan yang jelas, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, sehingga dalam hal evaluasi sudah tidak mempunyai hambatan, karena tinggal membandingkan antara idealita yang diharapkan dengan realita yang terjadi. Namun, sebagian besar indikator tersebut masih terpaku pada hal yang bersifat teknis, bukan hal yang lebih ke substansi seperti seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh mahasiswa ataupun apakah ada perubahan yang terjadi pada mahasiswa setelah mengikuti program kerja tersebut.

 2.  Membangun citra BEM KMFA UGM yang positif di kalangan mahasiswa dan masyarakat

Citra yang positif di kalangan mahasiswa bisa dilihat dari seberapa besar minat, perhatian, dan partisipasi mahasiswa Farmasi UGM terhadap program kerja BEM serta seberapa besar manfaat yang dihasilkannya.

Dari total 134 program kerja BEM tahun ini, yang 68 di antaranya ditujukan untuk mahasiswa Farmasi UGM (50,75 % dari seluruh program kerja BEM), ternyata mampu menyedot partisipasi 806 mahasiswa Farmasi UGM baik S1 maupun profesi (72,81 % dari total mahasiswa Farmasi UGM yang berjumlah 1107 mahasiswa). Angka tersebut menunjukkkan seberapa besar perhatian yang diberikan kepada BEM, sehingga mereka tertarik untuk mengikuti program kerja BEM. Namun, ternyata distribusi partisipasi mahasiswa pada setiap agenda tidak merata. Untuk agenda yang memiliki keterkaitan dengan akademik, oalhraga, dan seni mampu menyedot animo yang tinggi. Sedangkan, untuk agenda yang bersifat non-akademik, seperti diskusi, training soft skill, dan lain sebagainya kurang mendapat perhatian.

Selain itu, pada periode ini, kami BEM KMFA UGM mencoba untuk melibatkan mahasiswa profesi pada agenda BEM, seperti pendelegasian event olahraga, training menghadapi dunia kerja dan Liga Futsal Farmasi. Alhamdulillah, minat mahasiswa profesi untuk mengikutinya cukup tinggi, bahkan peserta untuk training menghadapi dunia kerja melebihi kapasitas.

Mewujudkan citra positif di masyarakat diwujudkan dengan agenda-agenda yang langsung bersinggungan dengan mereka. Agenda dengan sasaran masyarakat mencapai 12,69 % atau berjumlah 17, yaitu : pengajian, penyuluhan kesehatan, bimbingan belajar, TPA dan lomba-lomba untuk anak-anak di desa mitra. Selain itu, program warisan dari periode sebelumnya yaitu reading service di Panti Yaketunis juga terus dilakukan, bahkan di awal kepengurusan mencoba untuk mengenal lebih dekat dengan anak jalanan di rumah singgah “Diponegoro”, namun sampai saat ini belum ada kelanjutan dari agenda tersebut.

Ketika bencana Merapi kemarin, kami juga melakukan aksi sosial tanggap darurat Merapi dengan bekerja sama dengan jaringan yang ada, yaitu : IAI, Dinas Kesehatan, ISMAFARSI, Deru UGM. Kami tidak mengatasnamakan BEM KMFA UGM, namun dengan nama “KMFA UGM Peduli Merapi” karena mengajak teman-teman KMMF dan Klinika. Selain membantu di bidang pelayanan kesehatan, kami juga melakukan penggalangan dana ataupun barang lalu mendistribusikannya ke posko yang membutuhkan.

Semua agenda sosial kemasyarakatan tersebut, tidak dilakukan oleh internal BEM sendiri, tetapi juga mengajak mahasiswa di luar BEM untuk ikut berpartisipasi, terlibat aktif, memikirkan ide dan gagasannya terutama di KMFA Peduli Merapi dan agenda-agenda di desa mitra (TPA, bimbingan belajar, dan penyuluhan kesehatan dengan menggandeng Klinika, Profetik, PIOGAMA, dan Jatropha) dan Panti Yaketunis.

3.  Mengoptimalkan peran BEM KMFA UGM sebagai wadah aspirasi dan pembelaan terhadap hak-hak mahasiswa

Kinerja dari perjuangan dan pembelaan terhadap hak-hak mahasiswa belum berjalan dengan baik. Aspek-aspek yang bersifat substansial sering diabaikan, lebih mengarah pada teknis, tetapi sudah cukup baik dalam hal mediasi dengan dekanat dan rektorat. Kondisi ini disebabkan kurangnya kultur diskusi dan riset yang mendalam terhadap kebijakan-kebijakan yang ada serta sedikitnya inovasi dalam mewacanakan kepada mahasiswa, sehingga kurang mendapat tanggapan dari mahasiswa.

Saat isu KIK merebak di UGM, sebenarnya langkah yang sudah dilakukan sudah cukup baik, yaitu dengan berkoordinasi dengan BEM se-UGM, BEM Fakes, melakukan komunikasi, meminta pandangan dan pendapat dari dekanat Farmasi, serta melakukan pewacanaan ke mahasiswa dengan menyebarkan leaflet. Namun, kendala yang ada justru dari mahasiswa Farmasi sendiri yang menganggap bahwa KIK adalah hal yang wajar dan ketika diadakan audiensi dengan pihak rektorat, mahasiswa yang hadir sangat sedikit.

Sementara itu, aspirasi dari mahasiswa terkait sarana dan prasarana yang ada di kampus disampaikan melalui kuisioner yang disebar di kelas, yang selanjutnya dikomunikasikan kepada WD 2 dan meminta untuk segera diperbaiki.

Transparansi dan akuntabilitas keuangan yang selalu menjadi harapan dari mahasiswa belum terwujud. Saat melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai RKAT, terbentur pada beberapa hal, seperti sikap dari BEM sendiri yang terkesan kurang bersahabat saat menanyakannya yang menyebabkan staf di bagian administrasi keuangan fakultas menjadi su’udzon dahulu. Harapannya, minimal BEM bisa mendapatkan informasi penggunaan uang fakultas dan untuk ke depannya mampu memberikan masukan kepada fakultas.

Isu yang muncul secara tiba-tiba di periode ini yaitu mengenai PORTAMASI. Ternyata, PORTAMASI mencoba dihidupkan kembali, setelah selama 2 tahun belakangan ini mengalami mati suri. Sebenarnya, PORTAMASI tidak menjadi masalah jika dikelola dengan baik dan transparan dalam penggunaan kasnya, bahkan bisa menjadi sumber dana yang cukup besar untuk membiayai kegiatan mahasiswa. Namun, PORTAMASI juga bisa menjadi alat dari dekanat untuk mengurangi dana DPP SPP yang digunakan untuk mahasiswa. Oleh karena itu, PORTAMASI dan transparansi dan akuntabilitas keuangan Fakultas Farmasi UGM merupakan dua hal yang saling berkaitan. Melihat kenyataan bahwa untuk periode ini, pengorganisasian mahasiswa untuk isu seperti ini masih kurang, maka 2 isu ini menjadi rekomendasi untuk periode mendatang.

4.  Mengembangkan potensi, minat, dan bakat mahasiswa Farmasi UGM

Mahasiswa Farmasi UGM merupakan mahasiswa yang memiliki berbagai macam minat dan bakat di bidang akademik maupun non-akademik. Oleh karena itu, sudah sewajarnya bagi BEM untuk mengembangkannya melalui klub-klub minat bakat yang ada. Klub-klub ini muncul tidak dengan sendirinya, melainkan dibentuk berdasarkan keinginan dari mahasiswa yang tertuang dalam polling yang diputar di kelas-kelas.

Sepanjang periode ini, terjadi grafik yang menanjak di berbagai klub. Klub bahasa asing yang telah lama vakum, kembali dihidupkan, bahkan pada bulan Mei 2010 saat kejuaraan debat Bahasa Inggris, tim debat Farmasi UGM berhasil memperoleh juara 3. Selain itu, melalui training kewirausahaan, telah terbentuk komunitas kewirausahaan walaupun belum ada tindak lanjut mengenai komunitas tersebut.

Sarana dan prasarana klub-klub olahraga (basket, futsal, sepakbola, tenis meja, catur, dll) diperbaiki, latihan semakin rutin dilaksanakan, dan manajerial dalam pendelegasian semakin baik, walaupun jumlah SDM atlet yang itu-itu saja, ternyata berhasil meraih juara di berbagai kejuaraan dan puncaknya di event PORMAGAMA 2010, Fakultas Farmasi UGM menduduki peringkat 2 di klasemen akhir berada di bawah Fakultas Teknik yang jauh lebih unggul dalam hal jumlah SDM.

Di bidang seni, klub mengalami stagnasi yang menyebabkan seperti tenggelam di bawah bayang-bayang klub olahraga. Bukti konkretnya yaitu kegagalan dari kami BEM KMFA UGM untuk memfasilitasi klub seni ke penyelenggara acara seni di sekitar kampus, sebagai contoh Gelex (Gelanggang Expo).

Minat di bidang yang bersentuhan dengan nuansa akademik juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Hal ini tercermin dari membanjirnya mahasiswa di kelas bahasa asing, meningkatnya jumlah proposal PKM yang diajukan ke DIKTI, dan pelatihan statistik farmasi yang peseratnya melebihi kuota.

5.  Kritis, peduli, dan mampu memberikan solusi terhadap isu-isu keprofesian, kesehatan, kampus, dan nasional

Isu-isu yang berkembang di masyarakat tentu membutuhkan berbagai macam penyikapan dari mahasiswa. Isu tersebut dikelompokkan menjadi isu keprofesian dan kesehatan, kampus, dan nasional.

Untuk isu yang bersifat keprofesian dan kesehatan, pada periode ini sudah cukup massif untuk pewacanaan kepada mahasiswa Farmasi dengan menggunakan berbagai macam sarana dan metode seperti kajian, diskusi, seminar, board of issue, dan lain sebagainya. Berbagai kajian yang berhasil dilaksanakan yaitu kajian tentang PP 51, kedatangan Obama, Jamkesmas, Judicial Review UU No.36/2009 Pasal 108, dan kurikulum kefarmasian. Adanya bulletin Papyrus, website maupun grup di FB belum mampu untuk mengembangkan isu lebih lanjut, karena keterbatasan SDM untuk mengelolanya. Kehadiran SUKEMI (Pusat Isu Kesahatan Farmasi) sebagai tim independen yang berkoordinasi dengan Ketua BEM, mampu membangkitkan kesadaran mahasiswa tentang keprofesiannya, walaupun SUKEMI sendiri masih sering mengalami kendala di internal mereka. Debat kefarmasian yang merupakan warisan periode lalu, berhasil dikembangkan cakupannya menjadi skala nasional dan menjadi salah satu agenda Dies Natalis Farmasi UGM ke-64.

Isu yang skalanya kampus dan nasional, masih sulit untuk mendapat tempat di mahasiswa yang lain. Kurangnya inovasi dalam pengemasan isu juga menjadi salah satu penyebabnya. Kehadiran massa aksi Farmasi UGM dalam setiap aksi juga mengalami penurunan yang cukup besar. Namun, ada hal yang patut dibanggakan, yaitu keterlibatan Kastrat BEM KMFA UGM dalam pembuatan buku berjudul “dari UGM untuk Indonesia” yang diluncurkan bertepatan dengan agenda ”Indonesia 100 %”-nya BEM KM UGM. Buku tersebut merupakan buah pikir dari forum kastrat se-UGM, walaupun yang terlibat dalam pengisian artikelnya hanya 7 fakultas.

Kultur diskusi dalam internal lembaga sudah mulai ditanamkan dalam internal PH, sehingga minimal dari PH mempunyai sikap peduli dan kritis, serta mampu menularkannya kepada staf. Tapi, kenyataannya belum semua staf paham akan urgensi dari diskusi semacam ini, sehingga untuk pewacanaan di tataran staf masih belum terbentuk.

6.  Mewujudkan hubungan yang harmonis dan sinergis dengan mahasiswa, lembaga lain, dan birokrat kampus

Lembaga mahasiswa tidak akan bisa berdiri sendiri tanpa adanya dukungan dan support dari pihak lain, terutama dari lembaga internal kampus (Senat, BSO, Kelompok Studi, aliansi strategis, ISMAFARSI, BEM fakultas lain, aliansi BEM Fakes, dan BEM KM UGM), civitas akademika lain (dekanat, dosen, dan karyawan), dan pihak di luar kampus (alumni, media, LSM, pemerintah).

Untuk lembaga internal kampus yang tergabung dalam KMFA UGM (Senat dan BSO), hubungan yang terbentuk masih berupa koordinasi ketika ada agenda bersama (P2SMB) dan belum pada tataran strategis seperti bagaimana mewacanakan isu bersama. Bahkan, sering kali ada agenda yang bentrok atau bertabrakan waktunya satu sama lain, sehingga dalam jumlah peserta terbagi-bagi. Hal inilah yang menghambat kinerja BEM saat ingin menggalang massa untuk penyikapan suatu isu.

Hubungan dengan 5 Kelompok Studi yang ada di Fakultas Farmasi UGM, sudah cukup baik. Terlihat dari keterlibatan mereka di agenda BEM yang ditujukan kepada masyarakat, seperti penyuluhan kesehatan di desa mitra yang melibatkan Klinika, PIOGAMA, Jatropha, dan Profetik. Memang masih ada 1 Kelompok Studi yang belum pernah bekerja sama yaitu CCRC, namun hal ini dikarenakan belum adanya tema yang cocok untuk dikerjakan bersama.

Aliansi strategis yang berkoordinasi dengan BEM, yaitu IPSF, JMKI, dan IBSF masih belum optimal dan butuh banyak perbaikan. Karena mereka terpisah dari BEM dan hanya berupa garis koordinasi, maka sangat sulit untuk melakukan monitoring terhadap kinerja mereka, sehingga kondisi mereka mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan, kesepakatan antara BEM KMFA UGM dengan IPSF, JMKI, dan IBSF mengenai hubungan keduanya, terjadi saat mereka belum melakukan pergantian kepengurusan. Oleh karena itu, pengurus yang baru hanya menerima keputusan ini dan kurang lengkapnya proses transfer yang terjadi.

Perubahan posisi ISMAFARSI di UGM yang berlangsung di periode ini menghasilkan hal-hal yang baru. Seperti up grading BEM yang setara dengan LK 1 ISMAFARSI dan Ketua BEM yang otomatis menjadi Komisaris ISMAFARSI Komisariat UGM. Bahkan, pada periode ini, mendapatkan Hibah PHK APM DIKTI sebesar 30 juta yang digunakan untuk menyelenggarakan Supercamp dan Kompetisi Konseling Nasional yang bekerja sama dengan PIOGAMA, serta dana DIPA sebesar 4,5 juta yang digunakan untuk rangkaian agenda Dies Natalis Farmasi UGM. Memang masih banyak hal yang perlu dibenahi dan diperbaiki mengenai perubahan ini, seperti bagaimana mengaktifkan staf BEM ke dalam agenda ISMAFARSI, bagaimana menginformasikan ISMAFARSI secara masif ke mahasiswa yang bukan staf BEM, dan lain sebagainya. Namun, sudah ada tulisan berjudul ”Cetak Biru ISMAFARSI – ISMAFARSI adalah Lembaga Eksekutif Mahaiswa Farmasi” yang Insya Allah akan mampu membantu proses pembenahan dan perbaikan ini. (Tulisan ada di Lampiran LPJ).

Keterlibatan dosen di agenda BEM mengalami peningkatan. Hal tersebut dilihat dari dosen yang berpartisipasi baik sebagai juri, moderator, dan pembicara berjumlah 34 dosen. Untuk memberikan apresiasi kepada dosen yang aktif, dalam agenda KMFA Awards, terdapat penghargaan dengan kategori ”Super Dosen ”. Tidak hanya dosen yang diberikan apresiasi, tetapi karyawan juga mendapatkan penghargaan serupa, yaitu berupa ”Life Time Achievement” yang diberikan kepada 3 orang karyawan. Hubungan dengan dekanat, sejauh ini masih berlangsung baik, karena seringnya mengadakan komunikasi dengan mereka. Namun, poin yang masih perlu mendapat perhatian lebih, yaitu tentang posisi tawar mahasiswa yang masih lemah.

Konsep KM UGM yang berupa konfederasi dan hanya berupa garis koordinasi menyebabkan kurang baiknya hubungan antara BEM KM UGM dengan BEM fakultas. Karena, setiap ada isu yang akan disikapi bersama, tanggapan dari BEM fakultas berbeda-beda dan malah bersifat kontra produktif. Untuk aliansi strategis BEM Fakes, belum ada follow up konkrit yang dilakukan di periode ini. Tercatat hanya ada beberapa kali pertemuan, yaitu di awal kepengurusan utnuk perkenalan dan sharing program kerja yang dapat dikerjakan bersama (hanya dihadiri oleh Ketua BEM dan Koordinator Eksternal) dan saat bergulirnya isu KIK.

Pada perode ini terjadi penambahan jaringan dengan pihak di luar kampus, walaupun keterlibatan beberapa dari mereka di agenda BEM masih sebatas sebagai pembicara. Alumni yang berhasil dirangkul yaitu Drs. Nurul Falah E.P., Apt, Drs. Elvie Effendi, M.Si., Apt, Drs. Jamaludin Al J Efendi yang diundang sebagai pembicara, dan Ka LKJ dan Kagama Jakarta yang siap menyumbang dana untuk keberlangsungan Farsigama. Untuk media, kerja sama yang telah dibangun dengan Kedaulatan Rakyat (beberapa agenda Dies Natalis dan Semnas masuk koran) dan Republika (dengan adanya wacana mendapatkan kolom yang bisa diisi oleh penelitian mahasiswa).

Tokoh yang berhasil dihadirkan yaitu Fadjroel Rachman, Indra Bastian, S.E., M.B.A., Ph.D, M.Rifqi Rohman, Aries Winarna, S.E., Ibnu Wahid FA, S.T.P., MT, Iyan Sofyan, S.Pd, M. Genta Mahadika, drg. Usman Sumantri (Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan – Kementerian Kesehatan RI), Sujatmiko Dwi Atmojo, Darwono, Cahyaningrum Dewojati, S.S., M.Hum., Drs. Suparna (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta), Dwi Budiyanto (penulis buku), R. Bima Slamet Raharja, S.S., M.A, Firmansyah Budi P.(Cokro Tela Cake)

Instansi yang pernah bekerja sama dengan BEM KMFA UGM yaitu Agatha Photo, Bernas Jogja, Cika Katering, Dinas Kesehatan DIY, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta, QTI (Quit Tobacco Indonesia), Center for Bioethics and Medical Humanities FK UGM, Stikes Surya Global, Stikes A. Yani, Super Success Indonesia (trainer), Three GSM

Jaringan yang telah terjalin pada periode sebelumnya, dirawat dengan cara  mengundang mereka sebagai pembicara dan mengirimkan kartu ucapan pada hari raya Idul Fitri kemarin.

II.     Rekomendasi

Sebagai pemerintahan mahasiswa yang berkesinambungan antara periode saat ini dan sesudahnya, sudah selayaknya BEM KMFA UGM 2011 meneruskan, memperbaiki, dan melakukan inovasi terhadap capaian-capaian pada periode ini. Oleh karena itu, rekomendasi ini merupakan keberlanjutan dari visi misi periode ini.

1.  Membangun internal BEM KMFA UGM yang solid dan dilandasi semangat kebersamaan

  • Memahamkan nilai-nilai gerakan mahasiswa kepada internal lembaga secara massif dan berkesinambungan.
  • Membangun hubungan kultural yang baik antara Ketua BEM dengan staf, sehingga Ketua BEM lebih mengetahui permasalahan-permasalahan yang ada pada tataran paling bawah.
  • Melakukan inovasi dalam hal pengkaryaan dan pemberdayaan staf, sehingga staf merasa “dimanusiakan”, bukan sebagai robot yang hanya mengerjakan tugas tanpa mengerti esensi dan urgensinya.
  • Adanya controlling, monitoring, dan evaluasi terhadap kinerja PH dan staf secara berkala dan sistem hadiah dan hukuman sebagai bentuk tindak lanjut.
  • Adanya sistem pembinaan dan penjagaan secara kultural melalui program “kakak asuh organisasi”.
  • Mengurangi jumlah program kerja dengan menitikberatkan pada efektifitas dan kebutuhan internal lembaga dan mahasiswa.

2.  Membangun citra BEM KMFA UGM yang positif di kalangan mahasiswa dan masyarakat

  • Memasifkan publikasi dalam setiap agenda dan adanya standarisasi publikasi.
  • Melakukan inovasi dalam pengemasan acara, terutama untuk acara non-akademik, sehingga lebih diminati oleh mahasiswa.
  • Membuat rencana strategis community development yang berorientasi jangka panjang dengan targetan yang jelas.
  • Membentuk Tim Mahagana (Mahasiswa Tanggap Bencana).
  • Membuat polling yang ditujukan untuk mahasiswa yang bertujuan untuk mengetahui kebutuhan mahasiswa yang diwujudkan dalam bentuk program kerja.

3.  Mengoptimalkan peran BEM KMFA UGM sebagai wadah aspirasi dan pembelaan terhadap hak-hak mahasiswa

  • Sedari awal sudah menganalisis dan menetapkan isu apa saja yang akan diusung dan mulai memikirkan strategi-strategi untuk melaksanakannya.
  • Membentuk tim “Pengawal Kurikulum 2011”.
  • Memperbesar “telinga” agar lebih bisa mendengar aspirasi yang ada di mahasiswa.
  • Lebih aktif untuk berkoordinasi dengan BEM KM UGM terutama menjelang datangnya momen-momen tahunan (12 Mei, UM UGM, Dies Natalis UGM).
  • Mewacanakan sejak dini isu “Pemilihan Rektor UGM”.
  • Terus memperjuangkan transaparansi dan akuntabilitas di Farmasi UGM dan PORTAMASI.

4.  Mengembangkan potensi, minat, dan bakat mahasiswa Farmasi UGM

  • Memberikan rangsangan kepada klub-klub minat bakat untuk lebih berprestasi dengan berbagai macam iming-iming.
  • Mencoba untuk menelusuri lebih jauh tentang potensi yang ada pada setiap mahasiswa Farmasi.
  • Mengembangkan wacana forum komunikasi antar klub, sehingga akan terjadi transfer ilmu dan pengalaman antar klub, sekaligus lebih mempermudah dalam hal monitoring klub.
  • Aktif mencari informasi event-event yang menunjang proses aktualisasi klub.

5.  Kritis, peduli, dan mampu memberikan solusi terhadap isu-isu keprofesian, kesehatan, kampus, dan nasional

  • Menggunakan semua media yang ada (jarkom SMS, FB, website, Papyrus) untuk mewacanakan isu.
  • Sering berkoordinasi, melakukan controlling, monitoring, dan evaluasi dengan SUKEMI, agar tidak terjadi miss communication.
  • Mengembangkan kultur diskusi dengan memanfaatkan ruang terbuka di kampus (lapangan badminton, kantin, lobi, selasar BEM).
  • Mengadakan diskusi internal yang wajib dihadiri oleh pengurus.
  • Mematangkan konsep “Sekolah Kader Kesehatan” dengan menggunakan aliansi strategis BEM Fakes

6.  Mewujudkan hubungan yang harmonis dan sinergis dengan mahasiswa, lembaga lain, dan birokrat kampus

  • Mengadakan rapat koordinasi secara rutin dengan KMFA UGM dan KS agar terjadi hubungan yang positif dan saling mendukung. Bahkan kalau perlu, di awal periode kepengurusan dilakukan rapat koordinasi yang membahas agenda masing-masing lembaga selama 1 tahun.
  • Menjalin komunikasi secara intens dengan dekanat.
  • Menetukan target berapa jaringan baru yang harus terbentuk dan bentuk follow up-nya.
  • Mengembangkan aliansi strategis BEM Fakes.
  • Melakukan monitoring persiapan dan penyelenggaraan APPS 2011 dan Lustrum ke-13 Farmasi UGM.
  • Mewacanakan kepada komisariat lain di wilayah Joglosepur dan nasional mengenai leburnya ISMAFARSI ke dalam BEM (atau lembaga eksekutif mahasiswa farmasi Indonesia).

 

Yogyakarta, 26 Desember 2010 / 20 Muharram 1432 H

Ketua BEM KMFA UGM 2010 – Kabinet Pengabdian

Nurul Hilalussodik Al Fauzani

07/255038/FA/07902

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s