Akulah sang Pemandu

Standar

Catatan: Tulisan ini dibuat sebagai syarat pendaftaran Pemandu P2SMB Farmasi UGM 2011

Sosok pemandu bukanlah sosok yang asing bagiku, karena sejak SMA aku sudah berkenalan dengan sosok ini, bahkan aku pernah tergabung di dalamnya. Ketika masuk bangku kuliah, pemandu-lah yang mengenalkanku dengan dunia kampus yang penuh dinamika. Sejak saat itu pula, dengan mantapnya sambil memegang nama dada, aku berikrar bahwa suatu saat nanti aku harus menjadi seorang pemandu.

Kenapa aku sangat terobsesi menjadi seorang pemandu??? Banyak yang mengira, dengan menjadi pemandu bisa belajar berkomunikasi, memimpin forum, kenalan dengan adik kelas, dan lain sebagainya. Semua itu memang betul, tapi itu bukan yang utama. Justru, aku malah berpikir kalau seorang pemandu itu dituntut untuk lebih banyak memberi daripada menerima. Memberi pengalamannya, memberi senyuman dan semangat kepada adik pandunya, memberi pengetahuannya tentang lingkungan kampus, memberikan informasi apa itu farmasi, memberikan gambaran bagaimana menjadi mahasiswa yang seimbang, dan memberi-memberi yang lain. Menjadi pemandu yang benar-benar wah seperti, bukanlah perjuangan yang mudah. Butuh keikhlasan dan kesadaran yang luar biasa untuk menggapainya.

Setiap orang pasti mempunyai pikiran yang berbeda mengenai sosok pemandu yang ideal dan menurut aku sosok pemandu itu ibarat sendok. Adik pandu dengan berbagai macam tingkah polahnya, masing-masing memiliki keunikan laksana es batu, gula, sirup, kelapa muda, dan softdrink. Di sinilah sosok sendok dibutuhkan keberadaannya. Sendok mencampur benda-benda tersebut dan mengaduknya dengan penuh perasaan, hingga akhirnya didapatkanlah es degan yang manis rasanya. Seandainya sendok tidak menjalankan tugasnya dengan baik, rasa minuman tidak akan enak. Begitu juga dengan kelompok kepemanduan, jika pemandunya sendiri tidak bisa mengondisikan forum niscaya tidak akan ada rasa kekeluargaan dalam kelompok itu dan adik pandu tidak merasakan manisnya ukhuwah.

Dalam setiap sesi kepemanduan, terdapat materi dengan porsi banyak yang harus disampaikan ke adik pandu, seakan-akan sopir bis yang harus kejar setoran. Nah, di sinilah poin yang terkadang dilewatkan oleh pemandu, parameter keberhasilan dalam menyampaikan materi bukan pada materinya, tapi terletak pada kepahaman adik pandunya. Tidak usah memberikan terlalu banyak, tetapi sampaikanlah poin-poin pentingnya dan biarkan mereka mencerna sendiri, dan di akhir sesi berikanlah kesimpulan. Mirip-mirip student centered learning (SCL) yang mengharuskan mahasiswanya aktif.

Intinya, (menurutku) menjadi pemandu adalah panggilan jiwa untuk melaksanakan pengabdian, memberikan apa yang dimiliki, dan membuat adik pandu merasa nyaman.

Yogyakarta, 10 Juni 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s