Kemenangan Jam Beker

Standar

Catatan: Tulisan ini dibuat untuk Lomba Cerpen 2008 yang diadakan oleh BEM KMFA UGM dalam rangka Dies Natalis Fakultas Farmasi UGM ke-62 dan mampu meraih juara ke-2.

Suara ayam berkokok bersahut-sahutan membuatku terjaga dari tidur panjangku. Kuintip jendela. Langit masih gelap, sang surya asyik bersembunyi di balik rembulan, dan embun dengan setia membasahi dedaunan.

“Alhamdulillah, aku masih diberikan kesempatan untuk menghirup udara segar pagi ini.” gumamku.

Aku melihat tubuhku, tampak tanganku yang pendek masih bingung menentukan pilihan dan akhirnya memilih berada di antara angka 4 dan 5. Sementara itu, yang panjang sudah nyaman berpegangan pada angka 6.

“Wah, sudah waktunya bernyanyi nih…” kataku dalam hati.

“Kriiiiiing…… Kriiiiiing…… Kriiiiiing…… Kriiiiiing……” aku bernyanyi dengan sangat keras, merdu, dan nyaring sampai-sampai terdengar suara letupan orang marah dari tetangga sebelah yang merasa terganggu.

Sementara itu, seorang remaja tanggung malah mengambil selimutnya yang teronggok tidak rapi di sebelahnya dan membelitkan ke tubuhnya yang hanya ditutupi oleh celana pendek dan kaos dalam. Seolah-olah dia tidak mendengar nyanyianku yang merdu ini.

“Kuulangi lagi ah…” batinku.

“Kriiiiiing…… Kriiiiiing…… Kriiiiiing…… Kriiiiiing……” kali ini aku menyanyi dengan suara yang lebih keras dan merdu.

Tiba-tiba, sebuah tangan besar mencengkeram leherku dan dengan kasarnya dia memukul kepalaku, menyuruhku diam. Aku secara refleks berontak, tidak mau diperlakukan seperti ini, dan tetap bersemangat bernyanyi dengan lantangnya. Rupanya si tangan besar itu menyadari bahwa aku tidak mau diam. Hingga akhirnya…

Gubrak…

Si tangan besar itu melemparkan diriku dengan kuatnya dan akupun dengan sukses jatuh terjerembab.

 “Innalillahi, wadow… kasar banget sih… uhuk… uhuk… kok bau di sekitar sini nggak enak yah?” ketika aku melihat ke samping dan melihat banyak sekali pakaian, aku baru tersadar kalau aku terperosok ke dalam ember yang berisi pakaian kotor.

“Tidaaakkkk….” erangku sambil menahan bau.

Tanpa mempedulikan keadaan tubuhku, si tangan besar itu kembali meneruskan mimpinya yang sempat tertunda beberapa saat.

®®®

“Fyuh, kenapa ya setiap pagi selalu saja aku mengalami keadaan seperti ini. Aku bangun, lalu nyanyi dengan merdu, dan akhirnya mendapat sambutan yang sama sekali tidak menunjukkan keramahan seorang mahasiswa, bahkan cenderung mengenaskan.” renungku.

“Padahal dulu,” Aku jadi teringat kisah dua tahun silam, ketika aku pertama kali berkenalan dengan dia. “Ical adalah remaja yang baik hati, saking baiknya, menyiksa binatang saja dia tidak tega. Suatu hari, sewaktu berulang tahun ke-17, dia mendapatkan hadiah dari orang tuanya. Hadiah itu adalah diriku.”

“Oleh dia, aku diletakkan di pojok meja sebelah ranjangnya. Aku selalu dibersihkan, dirawat, dan diperhatikan. Setiap akan melakukan aktivitas, dia selalu menatapku terlebih dahulu. Jika pagi telah tiba, dia selalu mengucapkan selamat pagi padaku, dan langsung mengerjakan sholat Subuh. Jika akan tidur, dia membisikkan ke telingaku ucapan selamat tidur dengan mesranya. Semenjak itu, aku merasa bahwa aku adalah makhluk Allah yang paling beruntung.”

“Tapi, kejadian itu tak berlangsung lama. Semuanya langsung berubah 180 derajat satu tahun kemudian, sewaktu dia diterima kuliah di sebuah PTN yang berada di Yogyakarta. Dia pergi meninggalkan orang tuanya dan tanah kelahirannya, atau istilah kerennya merantau.”

“Mungkin sejak saat itu dia merasakan kebebasan, tidak dikekang lagi oleh orang tuanya. Mulai dari detik itu, aku berkeyakinan kalau dia bukan Ical yang kukenal dulu. Sholatnya menjadi jarang, sering pulang larut malam, bahkan pernah dia tidak pulang untuk menemuiku. Aku sudah tidak diperhatikan lagi. Jangankan untuk membersihkanku, menatap akupun sudah tidak pernah lagi…”

“Jika pagi tiba, bukannya mengucapkan terima kasih padaku yang selalu bernyanyi untuk membangunkannya, eh dia malah memarahiku karena telah dengan sukses mengganggunya bermimpi indah. Karena kehilangan kesabaran, dia pernah dengan teganya membuang aku. Setelah itu, dengan santainya dia meneruskan lagi mimpinya.”

“Alhasil, setiap hari dia selalu bangun kesiangan, sholat subuhnya lebih sering absen. Suatu ketika, dia baru bangun saat aku bernyanyi tujuh kali, padahal dia masuk kuliah jam 07.00. Akhirnya tanpa mandi dan hanya bermodalkan cuci muka, dia langsung kabur ke kampus tanpa mengucapkan sepatah kata pun ke aku. Yang membuat aku makin heran, dia sepertinya tidak pernah kapok, bahkan semakin hari semakin tidak terkendali.”

 “Ah, sudahlah…” desisku pelan sambil menatap langit-langit kamar yang penuh dengan sawang.

®®®

Ical tersentak bangun tiba-tiba.  Ketika dia melihat sekeliling kamarnya, dia merasa kaget. Di depan pintu kamarnya, berdiri sebuah jam beker seukuran tubuhnya yang sedang menatap dia dengan buasnya, seolah-olah bernafsu untuk memakannya hidup-hidup. Dengan ketakutan, dia mencoba untuk menatap jam itu. Tak disangka, jam itu menjadi tersenyum sinis dan akhirnya tertawa dengan kerasnya.

“Ha ha ha…… Ha ha ha……”

“Si… siapa kamu?” tanya Ical dengan ketakutan.

Jam itu mendadak berhenti tertawa dan tidak berkata apa-apa. Dengan langkah yang berat, jam itu berjalan menghampirinya dan berdiri di samping ranjangnya.

“Siapa kau?” Ical bertanya sekali lagi.

“Aku siapa? Apa kau sudah lupa kepadaku?!” jam itu malah balik bertanya.

“Sungguh, aku tidak tahu siapa kau” Ical mencoba untuk mengumpulkan seluruh keberaniannya dan berusaha menatapnya dalam-dalam.

“Huh, lucu sekali… Aku adalah jam jam beker milikmu yang setiap hari kau siksa.”

“Jam bekerku? Ah tidak mungkin, kau pasti bercanda. Jam bekerku itu bentuknya kecil, lagipula semua jam di dunia ini tidak ada yang bisa bicara. Oh, aku tahu, ini pasti cuma mimpi.”

“Mimpi? Kau pikir ini cuma mimpi? Huh, salah besar manusia…”

“Ehm, untuk memastikan apakah ini mimpi atau tidak, aku akan mencubit pipiku. Kalau pipiku tidak terasa sakit, ini cuma mimpi. Sedangkan jika terasa sakit… Ah, tidak mungkin, aku yakin ini cuma mimpi.” gumamnya dalam hati. Ical lalu mencubit pipinya.

 “Ouch…” Ical merasa kesakitan. “Aneh, aku yakin ini kalau semua ini hanya mimpi, tapi kenapa pipiku terasa sakit”

“Huh, dasar manusia, sudah diberi tahu masih tidak percaya juga… Oh, jam segini kau masih tidur? Apa pekerjaanmu hanya tidur saja? Dasar pemalas!!!”

“Apa maksudmu berkata seperti itu?”

“Apa maksudku? Baik, kalau kau memang ingin tahu. Apa kau tidak tahu, kalau aku dengan baik hati sudah membangunkanmu sejak tadi pagi. Tapi apa yang kau lakukan? Kau malah menarik selimut dan kembali meneruskan tidurmu.”

Ical jadi teringat akan kelakuannya tadi pagi dan jadi bingung kenapa jam beker itu bisa tahu, padahal di kamarnya tidak ada orang lain selain dirinya sendiri.

“Lalu, ketika aku membangunkanmu sekali lagi, kau malah menyiksa aku, dan puncaknya kau melemparkan aku hingga akhirnya aku masuk ke dalam ember berisi pakaian kotor.”

Ical langsung beranjak dari ranjangnya dan bergegas melongok ember kotornya. Hasilnya, dia mendapati tidak ada jam beker yang teronggok di sana.

“Apa yang kau cari? Jam bekermu? Apa kau masih tidak percaya juga kalau jam beker yang berada di depanmu ini adalah jam bekermu?!”

“Oke, oke, aku percaya kalau kau memang jam bekerku.”

“Huh, percaya saja tidak cukup.”

“Baiklah, aku minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”

“Cuih, janji palsu, aku tidak percaya.”

“Kalau begitu apa maumu?”

“Kau menanyakan apa mauku? Baiklah, akan kuberitahu apa mauku sebenarnya.” ucap jam beker sambil beranjak pergi menembus tembok kamar kos Ical dan tiba-tiba sekeliling Ical menjadi gelap gulita.

Ical yang takut akan kegelapan, secara refleks mencoba untuk berteriak sekencang mungkin. Anehnya, dia sendiri tidak dapat mendengar teriakannya. Dia jadi bingung, apa yang sebenarnya sedang dia alami saat ini. Dimulai dari dibangunkan oleh jam bekernya yang bisa berkomunikasi bahkan berbicara dengannya, lalu dia merasa penglihatannya hilang, sekarang dia semakin tidak mengerti ketika dia berprasangka bahwa dia menjadi bisu dan tuli.

“Apakah ini yang namanya hokum karma?” gumamnya, seakan-akan dia telah pasrah akan keadaan yang menimpanya.

Beberapa detik setelah dia menggumamkan kalimat itu, entah ada kekuatan dari mana, sekelilingnya menjadi terang kembali, suaranya telah kembali, dan di luar terdengar suara mesin motor yang sedang dipanasi oleh pemiliknya. Ical menjadi semakin bingung. Dia melihat dirinya sendiri sedang tertidur pulas di kamarnya.

“Di mana aku??? Kejadian aneh bin ajaib apa lagi yang kualami saat ini? Siapa anak yang tidur itu? Apakah itu aku? Lalu, kalau anak itu aku, aku ini siapa? Tidak mungkin kan, kalau ada dua Ical di dunia ini…”

Ketika melihat situasi di kamar itu, dia merasa tidak asing dengan barang-barang dan letaknya. Di sebelah ranjang anak yang sedang tidur itu -Ical-, terdapat meja belajar yang kondisinya berantakan dan kotor, semua barang berhamburan tidak jelas tempatnya. Kertas dan buku berserakan, sampah bertebaran, bahkan bungkus mie instant yang sudah kosongpun asyik nongkrong di sana. Mungkin nama tempat pembuangan sampah lebih tepat diberikan daripada sebutan meja belajar.

Sementara itu, di atas meja belajar terpasang papan tulis kecil. Keadaan papan tulis itu tidak jauh beda dengan tempat pembuangan sampah yang terletak di bawahnya. Dimana-mana terdapat coretan, mulai dari jadwal kuliah, daftar tugas yang belum dikerjakan, sampai daftar uang yang dipinjam dari teman-temannya. Satu-satunya hal yang menarik di sana yaitu tulisan “BESOK PAGI SEMINAR JAM 07.30 DI RUANG 3 !!! SEMANGAT !!!”.

“Seminar??? Apakah yang akan seminar itu aku?!” Ical akhirnya tahu bahwa anak yang tidur itu memang dia. Bukannya takut, dia malah menjadi gembira.

Dia merasa bahwa apa yang dia khawatirkan selama ini tidak terbukti. Kuliahnya yang berantakan, ideologinya yang “Nasakom” atau Nasib Satu Koma, membuatnya pesimis kalau dia bisa lulus. Tapi, dengan membaca tulisan itu, dia percaya bahwa dia akan lulus walaupun dia sendiri tidak yakin apakah dia lulus karena kemampuannya sendiri atau karena rasa belas kasihan para dosen.

Waktu sudah menunjukkan pukul 07.25, tapi Ical masih tertidur. Bagai telur di ujung tanduk, Ical mencoba membangunkan dirinya.

“Woi, bangun woi… Ingat, pagi ini mau seminar… Bangun, bangun!!!”

Hasilnya nihil. Meskipun sudah dibangunkan dengan berbagai cara mulai dari paling sederhana yaitu menggoncang-goncangkan tubuhnya hingga cara yang dingin, menyiramkan air, dia masih terlelap dan tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia akan bangun. Ical pasrah melihat nasibnya yang sial.

Di sebelahnya, muncul jam beker yang tersenyum tipis kepadanya, seolah-olah mengejek dia. Beberapa detik kemudian, jam itu berdentang, menandakan pukul 07.30. Harapan sudah lenyap, kesempatannya telah pergi, dan hanya menangis yang bisa dia lakukan.

Semuanya menjadi gelap, mengulangi peristiwa yang tadi. Tapi, kegelapan itu hanya berlangsung selama sepersekian detik. Ketika terang kembali, dia sekarang berpindah tempat, berada di ruang 3 dan melihat para dosen penguji baru saja pergi meninggalkan ruangan dengan muka marah dan geram. Jelas saja geram, walaupun sudah ditunggu hingga 30 menit, tapi yang ditunggu-tunggu tidak muncul juga. Akhirnya pagi itu dia tidak jadi seminar.

Gelap menyelimuti ruangan itu, sepertinya kisah mengenaskan Ical telah selesai. Ternyata belum…

Dia kini dibawa oleh jam bekernya ke sebuah ruangan yang dipenuhi oleh orang-orang berpakaian rapi yang sedang diam sambil mulutnya komat-kamit, sepertinya sedang berdoa mengharapkan turunnya keajaiban. Sunyi.

“Ehm, kali ini aku dibawa kemana? Lalu, sedang apa orang-orang itu?” tanya Ical sambil menunjuk mereka.

“Diam. Jangan berisik. Sebaiknya sekarang kau menonton saja, sambil menerka kira-kira kejadian apa yang akan berlangsung sebentar lagi.” jawab jam beker pendek.

Keadaan yang sunyi itu dipecahkan oleh suara laki-laki tua yang memakai peci dan membawa tas jinjing.

“Maaf pak, jam sudah menunjukkan pukul 9 dan sepertinya rombongan yang laki-laki belum datang. Padahal, seharusnya jam 9 saya sudah berada di desa sebelah dan di sana ada tiga rumah yang akan saya datangi. Jadi, saya mau pamit.”

“Sebentar pak, mungkin lagi dalam perjalanan. Maklum pak, rumah mereka kan jauh dari sini. Mungkin juga, mobil mereka mogok di jalan. Tolonglah pak, sabar sedikit.” jawab laki-laki di depannya sambil mengelap keringat yang membanjiri mukanya.

“Dalam perjalanan bagaimana pak, dari jam 8 tadi sudah ditunggu, tapi hingga sekarang belum kelihatan juga. Lihat pak, sudah jam 9!” balas laki-laki tua sambil memperlihatkan jam tangannya yang sudah kotor.

“Tolonglah pak, tunggu lima menit lagi. Nanti bayarannya akan ditambah 50%.”

“Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas niat bapak. Tapi, hal itu tetap tidak bisa menghalangi saya untuk segera pergi. Sekali lagi saya minta maaf, tapi sepertinya waktu memang sedang tidak bersahabat. Baiklah pak, saya pergi dulu. Kalau tugas saya di sana sudah selesai, Insya Allah saya akan kembali lagi. Terima kasih pak. Maaf kalau bapak tidak berkenan. Wassalamu’alaikum.” ucap laki-laki tua itu sambil menjabat tangan laki-laki di depannya dan beranjak pergi dari kerumunan.

Ical yang dari tadi memperhatikan kejadian itu masih tidak mengerti, untuk apa dia dibawa ke sini. Baru ketika dia berbalik dan menatap foto besar dirinya yang sedang tersenyum bersama seorang wanita cantik terpajang dengan indah di belakang tempatnya berdiri, dia merasa bibirnya terkunci rapat, tidak dapat berkata apa-apa lagi. Seolah-olah langit telah runtuh menimpa dirinya.

Dengan penuh rasa puas atas kemenangannya, jam beker tertawa terbahak-bahak dan berlari meninggalkan Ical sendirian. Ical mencoba berlari mengejarnya untuk meminta penjelasan, tapi entah kenapa tubuhnya terasa berat dan semakin berat.

“Tidakkkkkkkkkkkkkkk…….” erangnya melihat jam beker telah jauh pergi dan lama-kelamaan hilang dari pandangannya.

®®®

Tiba-tiba…

“Dokdokdok… Dokdokdok… Dokdokdok…”

“Cal, bangun… dah pagi nih… Cal…”

Suara gedoran teman kosnya membuat Ical bangun. Dengan masih terkantuk-kantuk, dia bangkit dari posisi tidurnya dan duduk untuk meregangkan urat syarafnya. Di dalam otaknya, masih terpatri dengan jelas peristiwa yang baru saja dialami. Jam beker yang mampu bicara, kegelapan, seminar yang tidak jadi, dan puncaknya pernikahan yang gagal.

Lalu dia beranjak untuk mencari jam beker yang tadi dia buang. Ternyata, jam bekernya masih dengan setia berada di ember yang berisi pakaian kotor, tersenyum manis kepadanya, dan tangannya bergelantungan menunjukkan pukul 7.

Dia duduk kembali di ranjangnya dan mencoba untuk mengingat sesuatu.

“Sepertinya jam 7, aku ada agenda yang sangat penting. Tapi kira-kira apa yah?” ucapnya sambil menggaruk-garuk kepala. Untuk membuat ingatannya kembali pulih, dia melihat papan tulis kecil di atas meja belajarnya dan di sana tertulis…

“9 September 09 jam 07.00, ujian Menggambar Teknik @ ruang 2. KEEP SPIRIT!!!”

Dunia seakan gelap dan Ical merasa jam beker telah meng-KO-nya lagi…

Skor akhir 3-1 untuk kemenangan jam beker…

®®®

Yogyakarta, 15 September 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s