Rintisan Kerjasama Mahasiswa Kesehatan Indonesia-Malaysia

Standar

Catatan: Tulisan ini termuat dalam draft narasi akademik dari mahasiswa UGM untuk mahasiswa Malaysia (UTM dan UM).

Dalam kehidupan bertetangga, pasti ada saat di mana kita bisa akur dan saling membantu, tapi kadang kala juga berselisih paham karena suatu hal. Kondisi ini berlaku juga dengan hubungan antara Indonesia dengan tetangganya, yaitu Malaysia. Saat mendengar kata “Malaysia”, pasti yang ada dalam benak kita yaitu lawan, sikat, dan kata-kata lainnya yang berkonotasi negatif. Hal yang sangat wajar jika melihat kenyataan yang terjadi akhir-akhir ini. Berbagai macam provokasi yang dilancarkan oleh Malaysia dan Indonesia memang membuat hubungan antara kedua belah pihak terus memanas. Bahkan salah satu organisasi masyarakat yang ada di Indonesia siap untuk menerjunkan pasukannya seandainya peperangan benar-benar akan terjadi.

Media massa juga tidak mau kalah untuk terus mengompori kita. Berbagai macam berita dan pernyataan sikap dari orang-orang yang terkenal setiap hari dimuat. Padahal, seandainya kita mencoba untuk mencari hal yang lebih berguna daripada sekedar bertikai, sebenarnya banyak hubungan kerja sama yang telah maupun sedang dilakukan antara Indonesia dan Malaysia yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Namun, sepertinya hal tersebut kurang mendapatkan porsi pemberitaan yang cukup di media massa. Semboyan “bad news is good news” masih dijadikan patokan apakah berita layak dimuat atau tidak.

Kita selaku mahasiswa, seharusnya berusaha untuk lebih selektif dalam memilih dan memilah isu yang sedang berkembang. Jangan sampai kita terbawa oleh pemberitaan yang ada dan mengesampingkan hal-hal lain yang seharusnya lebih kita prioritaskan. Dalam isu ini  misalnya. Kita mencoba untuk melihat sisi lain yang positif, sebagai contoh justru kita mencari tahu penawar atau obat yang mampu meredakan ketegangan tersebut. Salah satu caranya yaitu dengan mengkaji hubungan kerja sama antara kedua negara yang serumpun tersebut.

Ternyata. Indonesia dan Malaysia telah menjalin hubungan kerja sama di berbagai sektor strategis yang berujung pada perbaikan-perbaikan yang tidak hanya dirasakan oleh kedua negara, tapi juga mampu bermanfaat untuk negara-negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Sebagai contoh di sektor kesehatan. Sesuai dengan visi “2020 ASEAN Sehat” yang mengharapkan bahwa pada tahun 2020 masyarakat ASEAN harus sehat jasmani dan rohani, serta hidup harmonis di lingkungan yang aman dan sehat, pada rapat Menteri Kesehatan se-ASEAN ke-10 di Singapura tanggal 22 Juli 2010 terjadi beberapa kesepakatan, antara lain:

  • Menekankan kesehatan sebagai hak dasar masyarakat, di mana pengembangan dan perbaikan kesehatan merupakan tanggung jawab bersama dan harus melibatkan partisipasi masyarakat dan lembaga-lembaga.
  • Kerja sama untuk menanggulangi penyakit menular (seperti HIV dan AIDS, flu burung dan pandemi), dan gaya hidup yang tidak sehat (obesitas, kanker, diabetes, penyakit jantung dan penyakit mental).
  • Reformasi kesehatan di daerah, seperti pengembangan jaringan kerja sama di bidang promosi kesehatan, pembiayaan kesehatan, peningkatan kapasitas bagi para tenaga kesehatan, pengembangan sumber daya manusia, dan teknologi kesehatan.
  • Mempersempit kesenjangan sosial melalui peningkatan kesejahteraan masyarakat, menjamin ketersediaan pangan, menjamin akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang memadai dan terjangkau, layanan medis dan obat-obatan, swamedikasi, serta miempromosikan gaya hidup sehat.
  • Pengembangan obat tradisional atau obat herbal.
  • 4 tujuan strategis ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC), yaitu : ketahanan pangan; akses ke pelayanan kesehatan yang meliputi obat-obatan, obat tradisional, kesehatan ibu dan anak; gaya hidup sehat dengan penekanan pada kesehatan proaktif, langkah-langkah untuk mencegah penyakit tidak menular, dan kesehatan mental; dan penyakit menular dan kesiapsiagaan pandemi.
  • Menyadari bahwa penyakit menular seperti H1N1 dan H5N1 akan terus menjadi ancaman kesehatan masyarakat di ASEAN.
  • Mendesak WHO untuk meninjau tingkat pandemi dan mempertimbangkan tingkat keparahan sebagai kriteria dalam menentukan tingkat waspada.
  • Mendesak negara-negara anggota ASEAN untuk melanjutkan pengawasan dan berbagi informasi seperti pendidikan tentang kebersihan dan vaksinasi.
  • Mengesahkan “Standar Minimum Investigasi dan Respon atas Wabah” untuk mengembangkan prosedur penanganan wabah yang jelas, efektif, terkoordinasi dengan baik, dan tepat waktu untuk keadaan darurat.
  • Mencatat pentingnya komunikasi risiko sebagai salah satu strategi untuk secara efektif mengelola wabah EID dan mendukung pembentukan ASEAN Komunikasi Risiko Resource Centre di Malaysia
  • Mendukung pembentukan ASEAN Plus Tiga Kemitraan Laboratories (APLs) untuk lebih memperkuat laboratorium dan jaringan di ASEAN Plus Tiga Negara di mana didukung secara financial dan teknis oleh National Institute of Infectious Diseases Jepang.
  • Sebagian besar penyakit menular yang muncul berasal dari hewan, oleh karena itu membutuhkan kerja sama yang lebih besar antara kedokteran hewan dan sektor kesehatan masyarakat.
  • Demam berdarah telah menyerang jutaan orang di seluruh dunia dan Asia Tenggara menjadi wilayah yang paling serius terkena dampaknya. Meningkatkan kesadaran masyarakat merupakan salah satu strategi utama untuk mengurangi risiko penularan demam berdarah. Oleh karena itu, menetapkan Hari Demam Berdarah ASEAN sebagai hari kampanye advokasi tahunan untuk pencegahan demam berdarah dan pengendalian di tingkat regional dan nasional. Kegiatan tersebut akan dimulai pada tanggal 15 Juni 2011 dan yang akan menjadi tuan rumah adalah Indonesia.

Melihat berbagai macam kesepakatan seperti itu, sungguh suatu pekerjaan besar yang menuntut semua pihak untuk turut menyukseskan, termasuk kita selaku mahasiswa kesehatan. Pertanyaan yang muncul adalah, apa yang bisa dilakukan oleh kita (mahasiswa) untuk merealisasikan poin-poin di atas, terutama yang melibatkan mahasiswa Indonesia dan Malaysia. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, antara lain:

1.  Membantu pemerintah dalam hal pengembangan obat tradisional atau obat herbal

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa kekayaan alam berupa tumbuhan yang ada di Indonesia sangat besar, di mana terdapat sekitar 1000 tanaman obat, dan ratusan di antaranya digunakan sebagai obat tradisional. Dengan kekayaan yang melimpah tersebut, seharusnya menjadi keunggulan bagi Indonesia dalam bidang obat tradisional. Akan tetapi, yang terjadi sebaliknya. Indonesia belum mampu memanfaatkan keunggulan Sumber Daya Alam tersebut dan kalah bersaing dengan negara lain yang notabene kekayaan alamnya tidak sebesar Indonesia.

Dalam setahun, nilai pasar obat tradisional Rp 2 triliun pertahun. Jumlah ini masih lebih rendah dari nilai obat sintetis karena pemakaian obat sintetis di sarana pelayanan kesehatan formal (rumah sakit, klinik, dan lain sebagainya) masih lebih banyak dibanding pemakaian obat tradisional.

Eksploitasi yang besar-besaran pada tumbuhan obat juga menjadi masalah yang cukup serius. Sesuai dengan prinsip ekonomi, bahwa semakin banyak permintaan akan suatu produk, maka semakin banyak pula bahan baku yang dibutuhkan. Jika kita menelisik lebih dalam, ternyata zat aktif yang mampu memberikan efek farmakologis (menyembuhkan) berupa metabolit sekunder, kandungannya kurang dari 10 %. Alhasil, untuk menghasilkan produk obat herbal yang baik, membutuhkan banyak tumbuhan yang berarti dapat mengancam kelestarian dan ketersediaan hayati tumbuhan tersebut.

Selain itu, walaupun industri obat tradisional di Indonesia berjumlah besar, namun belum semuanya terstandarisasi dan kualitas bahan bakunya juga masih dipertanyakan. Padahal, untuk obat tradisional, kualitas bahan baku menentukan baik tidaknya produk obat tersebut. Semakin baik kualitas dari bahan baku, semakin baik pula produk yang dihasilkan.

Hal yang menarik untuk dikaji dari tetangga kita Malaysia adalah bagaimana cara mereka mengembangkan obat tradisional atau obat herbal yang selangkah lebih maju daripada kita. Di Malaysia, obat herbal telah menjadi solusi alternatif dalam pelayanan kefarmasian dan sudah mendapat kepercayaan dari masyarakat. Industri obat herbal di sana juga sudah terstandarisasi dan hasilnya sudah diekspor ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Proses distribusinya tidak hanya melalui jalur konvensial seperti biasa, tetapi juga melalui MLM (Multi Level Marketing). Sungguh suatu inovasi yang luar biasa dan bisa kita bayangkan berapa omset yang didapatkan oleh mereka.

Padahal, sebagian besar bahan baku obat herbal mereka berasal dari Indonesia. Beberapa propinsi yang ada di Indonesia mengekspor bahan mentah dengan harga yang murah dan nantinya akan mendapatkan bahan tersebut kembali dengan harga yang mahal dan berbentuk produk obat.

Ada hal menggelitik yang jarang kita ketahui, bahwa ternyata ada 1 produk mereka yang diproduksi di Indonesia, bukan di pabrik industri obat melainkan hanya diproduksi di laboratorium praktikum di salah satu universitas negeri di Indonesia. Kondisi yang sangat lucu, tempat produksinya di Indonesia, tetapi label atau nama produk dari Malaysia.

Oleh karena itu, sudah sewajarnya kita mencoba untuk belajar dari tetangga kita, dalam bidang produksi dan distribusi obat tradisional. Bagaimana cara mereka melakukan standarisasi mulai dari budidaya bahan baku, teknologi pasca panen, proses produksi, dan hasil akhir yang berupa produk obat tradisional. Bagaimana sistem distribusi yang mereka terapkan, sehingga mampu melebarkan sayap ke Negara lain.

Yang tak kalah pentingnya yaitu, kurikulum yang ada di perguruan tinggi farmasi Indonesia harus mencakup hal-hal tersebut di atas. Fakultas Farmasi UGM memang telah menyediakan porsi yang cukup terkait herbal, namun belum semua perguruan tinggi farmasi sadar akan kebutuhan tersebut dan itu menjadi tanggung jawab bagi Fakultas Farmasi UGM untuk menyadarkannya.

2.  Mengupayakan masyarakat mendapatkan pelayanan dan informasi kesehatan yang benar dan memadai

Ada suatu tanggung jawab yang diemban oleh setiap tenaga kesehatan, yaitu masyarakat mendapatkan pelayanan dan informasi kesehatan yang benar dan memadai. Benar berarti pelayanan dan informasi yang diberikan sesuai dengan kaidah keilmuan dan dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan, memadai berarti setiap masyarakat mendapatkan haknya di bidang kesehatan dengan baik.

Untuk mewujudkan kondisi ideal tersebut, bukan perkara yang mudah dan sederhana. Realita yang ada saat ini menyebutkan bahwa Sumber Daya Manusia (tenaga kesehatan) dan sarana-prasarananya belum menunjang terjadinya kondisi yang ideal. Dari segi tenaga kesehatan sendiri, belum sepenuhnya sadar akan tanggung jawab yang besar tersebut dan terkesan hanya mencari keuntungan berupa material saat menjalankan prakteknya. Hal ini diperparah dengan sarana dan pra sarana kesehatan yang belum baik, seperti fasilitas yang ada di rumah sakit, klinik, apotek, dan lain sebagainya.

Sekitar 1 tahun yang lalu, Pemerintah Kota Semarang menerima kunjungan dari Kementrian Kesehatan Malaysia dan Sekolah Perawat Segi College Kuala Lumpur. Tujuan dari kunjungan tersebut yaitu untuk menjalin kerja sama di bidang kesehatan, survey ke rumah sakit untuk studi banding dan kerja praktek selama 3 bulan. Dipilihnya Semarang sebagai tujuan studi banding karena merupkan hasil pertemuan dan diskusi dengan KBRI di Malaysia dan semarang mempunyai rumah sakit yang tarafnya sama dengan yang ada di Malaysia. Selain itu, Pemerintah Kota Semarang juga memprioritaskan pelayanan kesehatan yang terjangkau oleh masyarakat umum dengan memberikan perhatian yang lebih pada masyarakat yang berpenghasilan rendah, daerah pedesaan, dan daerah terpencil. Puskesmas gratis, peningkatan-peningkatan di bidang kesehatan seperti ketersediaan air bersih, angka harapan hidup, dan peningkatan jumlah keluarga yang memiliki jamban keluarga juga menjadi hal yang terus diperhatikan.

Mahasiswa terutama mahasiswa kesehatan selaku sosok yang diharapkan kontribusinya di masyarakat mempunyai andil yang besar untuk mewujudkan kondisi ideal tersebut. Banyak hal yang bisa kita perbuat, seperti yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu oleh mahasiswa Farmasi Unpad yang bekerja sama dengan mahasiswa Farmasi USM. Mereka melakukan penyuluhan mengenai cara pencegahan dan penanggulangan penyakit, penggunaan anti biotic, swamedikasi, dan pelayanan kesehatan di daerah terpencil di Propinsi Jawa Barat.

3.  Kampanye pada hari kesehatan dunia

Masyarakat di Indonesia adalah tipe masyarakat yang cenderung pasif terhadap informasi dan lebih suka dengan hal-hal yang sensasional. Realita inilah yang dapat dijadikan senjata untuk mengkampanyekan isu-isu kesehatan kepada masyarakat. Lupakanlah metode-metode yang sudah usang dan ketinggalan zaman. Saat ini, kita membutuhkan inovasi baru untuk menginformasikan hal-hal yang perlu untuk diketahui masyarakat.

Di bidang kesehatan, terdapat 5 hari kesehatan yang diakui se-dunia dan selalu diperingati setiap tahunnya, yaitu:

  • World TB Day 24 Maret
  • World Health Day 7 April
  • World No Tobacco Day 31 Mei
  • World Diabetes Day 14November
  • World AIDS Day 1Desember

Dengan kita mengambil momentum tersebut, didukung oleh SDM yang cukup memadai dari Indonesia dan Malaysia, serta cara-cara penyampaian yang informatif, niscaya target-target yang ditetapkan pada kampanye tersebut akan tercapai.dan masyarakat luas akan mendapatkan manfaat dari agenda kita.

Satu poin yang menjadi perhatian khusus yaitu, bagaimana mengajak masyarakat untuk terlibat aktif dalam pelaksanaan kampanye tersebut, memastikan mereka benar-benar paham akan materi yang kita sampaikan dan pada akhirnya nanti dapat menjalankan atau mempraktekkan ilmunya. Hambatan seperti inilah yang harus kita cari pemecahannya bersama-sama dengan mempertimbangkan berbagai macam aspek sosial, seperti tingkat pendidikan yang masih rendah dan tingkat kesejahteraan masyarakat yang belum merata.

Pada intinya, ada 3 program yang akan ditawarkan untuk menjadi isu bersama antara mahasiswa kesehatan Indonesia dan Malaysia, yaitu : membantu pemerintah dalam pengembangan obat tradisonal dan obat herbal, mengupayakan masyarakat mendapatkan pelayanan dan informasi kesehatan yang benar dan memadai, dan yang terakhir kampanye pada hari kesehatan dunia.

Ketika kami, mahasiswa Farmasi UGM ingin mencoba untuk berpartisipasi aktif dalam mewujudkan program-program tersebut, kita tidak bisa bergerak sendiri untuk menuntaskannya. Kami membutuhkan jaringan berupa lembaga aliansi yang dimiliki oleh lembaga eksekutif mahasiswa. BEM KMFA UGM (Badan Ekesekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada) sebagai representasi mahasiswa Farmasi UGM mempunyai berbagai lembaga aliansi yang bersifat nasional maupun internasional.

Ada 2 lembaga aliansi yang bisa untuk diajak kerja sama, yaitu ISMAFARSI dan IPSF. ISMAFARSI (Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia) adalah suatu organisasi bersifat nasional yang merupakan forum komunikasi dan koordinasi lembaga eksekutif mahasiswa farmasi se-Indonesia yang bertujuan untuk mewujudkan lembaga eksekutif mahasiswa secara khususnya dan mahasiswa farmasi pada umumnya yang bertanggung jawab, sadar dan mampu dalam menjunjung tinggi norma dan etika profesi farmasi. Dengan anggotanya yang berjumlah 55 perguruan tinggi farmasi dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia, menjadikan ISMAFARSI mampu menjadi tonggak perbaikan di bidang kesehatan pada umumnya dan khususnya kefarmasian. Program kerja pada ISMAFARSI yang menunjang hal-hal tersebut di atas antara lain: training, advokasi keprofesian, kampanye informasi obat, konseling pasien, pelayanan kesehatan, dan lain-lain.

Sedangkan IPSF (International Pharmaceutical Students Federation) yaitu organisasi mahasiswa Farmasi yang bersifat internasional. Untuk lebih mempermudah kinerjanya, IPSF dibagi menjadi beberapa regional, di mana Farmasi UGM yang diwakili BEM KMFA UGM masuk ke dalam regional APRO (Asia Pacific Regional Office). Beberapa program kerja dari IPSF antara lain: symposium, student exchange, kampanye kesehatan, aksi hari kesehatan, dan seminar konseling pasien. Pada Juli 2011 nanti, Farmasi UGM akan menjadi tuan rumah APPS (Asia Pacific Pharmaceutical Symposium).

Melihat kenyataan itulah, kami BEM KMFA UGM mencoba untuk mengajak kedua lembaga aliansi demi menyukseskan program-program kerja sama tersebut. Dengan memanfaatkan jaringan ISMAFARSI yang tersebar di sekuruh Indonesia, dapat digunakan untuk mengajak perguruan tinggi farmasi yang lain untuk ikut serta dalam kerja sama ini. Begitu juga dengan anggota IPSF yang berada di penjuru dunia, untuk merekomendasikan kepada pemerintah dan ikut menginisiasi berlangsungnya terkait program di kampusnya masing-masing.

Lalu, dengan adanya kunjungan BEM KMFA UGM ke Malaysia pada tanggal 18-22 Oktober 2010, harapannya akan menjadi awalan yang baik bagi hubungan kerja sama antara BEM KMFA UGM dengan lembaga mahasiswa farmasi di Malaysia dan kedua belah pihak menjadi inisiator di negaranya masing-masing terkait program ini. Mengenai keberlanjutan dari hubungan kerja sama ini, akan menjadi tugas dari masing-masing pihak untuk terus berkomunikasi dan saling memantau tentang pelaksanaan program ini.

Target besar dari hubungan kerja sama mahasiswa kesehatan Indonesia dengan Malaysia adalah terwujudnya visi “2020 ASEAN Sehat” dengan salah satu penggeraknya adalah kita… Semoga…

Yogyakarta, 14 Oktober 2010

Nurul Hilalussodik Al Fauzani

hilal.nh4f@gmail.com

Ketua BEM KMFA UGM 2010

Delegasi “Student Visit of UGM Student Representative Board to Malaysia” 18-22 Oktober 2010

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s