Laporan Pertanggungjawaban Departemen Advokasi BEM KMFA UGM 2009

Standar

I.              Pendahuluan

Setiap perbaikan tidak akan datang begitu saja, tetapi dibutuhkan pengorbanan yang banyak dan perjuangan yang tak kenal henti. Oleh karena itu, tidak heran jika dalam proses ini hanya sedikit langkah-langkah yang mau membersamai dan terkadang langkah yang sedikit itu akan berguguran sebelum sampai pada tujuan.

Berbahagialah dan berikanlah pujian yang tulus kepada langkah-langkah yang tetap bertahan dan terus berjuang. Namun, jangan berikan cacian kepada mereka yang beristirahat, tetapi berikanlah semangat dan dukungan agar mereka meneruskan langkahnya kembali.

II.           Arahan Kerja

Pada kepengurusan BEM KMFA UGM 2009, terjadi perubahan besar-besaran pada Departemen Advokasi. di mana fungsi kajian strategis yang selama ini bernaung dan menjadi satu di bawah Departemen Kajian dan Advokasi, akhirnya dipisah dan menghasilkan Departemen Advokasi dan Departemen Kajian Strategis.

Arahan kerja untuk Departemen Advokasi yaitu :

1. Inventarisasi data regulasi kebijakan, hasil investigasi, dan pengaduan.

2. Kajian dan analisis dari hasil data yang terkumpul dan memberikan rekomendasi solusi permasalahan.

3. Menjalin hubungan komunikasi, dan apabila memungkinkan koordinasi dengan berbagai seluruh elemen internal kampus maupun kerja sama dengan fakultas lain.

4. Menghimpun pengaduan dan permasalahan terkait dalam hal pembelaan hak-hak mahasiswa.

5. Menghimpun informasi dengan seluruh elemen terkait dalam hal perbaikan sistem.

6. Pendampingan dan pembelaan bagi mahasiswa mendapat hambatan, gangguan dan diskriminasi dari pihak-pihak otoritas pendidikan dalam proses pembelajarannya di kampus.

7. Memperjuangkan dan melakukan pembelaan dari hasil pengaduan dan permasalahan yang dihimpun.

8. Inventarisasi, menginformasikan, serta ikut berperan dalam merekomendasikan proses seleksi beasiswa berdasarkan prioritas di lapangan kepada fakultas, yang nantinya akan dikirim ke universitas.

9. Kajian kurikulum (ex:hearing dengan dekanat tentang kurikulum).

III.        Program Kerja

1. Up Grading Departemen

Idealita

Tujuan :

  • Meningkatkan rasa kebersamaan dan rasa memiliki terhadap advokasi
  • Pengenalan tentang advokasi dan pembekalan awal dalam melakukan tugas-tugas advokasi

Waktu pelaksanaan : Awal Maret 2009

Sasaran : Pengurus Departemen Advokasi

Output yang diharapkan :

  • Semangat dan aktif dalam mengikuti dan menjalankan amanah yang diberikan.
  • Terbentuk internal departemen yang solid.

Indikator keberhasilan :

  • Seluruh pengurus departemen hadir (10 orang).
  • Aktif berdiskusi dalam forum.

Realita

Waktu dan tempat pelaksanaan : Senin, 9 Maret 2009, Gedung Pusat Sayap Utara (Balairung)

Gambaran pelaksanaan kegiatan :

Up Grading ini dihadiri oleh 10 orang dengan pembicara Fudianto S. P. (Menteri Advokasi BEM KM UGM 2009) dan dihadiri oleh Ketua BEM. Acara dimulai dengan perkenalan dan gambaran karakter dari masing-masing orang. Setelah itu, keinginan dan harapan kinerja Advokasi selama 1 tahun ke depan dari Ketua BEM. Sementara itu, materi yang disampaikan oleh Fudianto berisi tentang pengenalan advokasi, sejarah PT BHMN dan pergerakan advokasi di UGM.

Output yang dicapai :

a.         Seluruh pengurus departemen hadir, walaupun ada yang terlambat.

b.         Forum yang dibentuk cair dan beberapa staf mampu aktif berdiskusi

c.         Masih ada kecanggungan antar staf.

Hambatan :

  • Waktu mulai up grading molor.
  • Materi pengenalan advokasi kurang begitu mengena dan cenderung masuk ke tataran teknis.
  • Ideologisasi masih kurang

Evaluasi :

  • ToR yang diberikan kepada pembicara diharapkan lebih jelas dan mudah dipahami.
  • Butub suasana dan sarana yang mendukung terwujudnya internal departemen yang solid.

2. Diskusi Internal

Idealita

Tujuan :

  • Meningkatkan skill-skill  keadvokasian dari staf
  • Menanamkan idealisme mahasiswa

Waktu pelaksanaan : 4 kali selama kepengurusan

Sasaran : Pengurus Departeman Advokasi.

Output yang diharapkan :

  • Skill keadvokasian meningkat
  • Peduli dan kritis terhadap isu yang berkembang

Indikator keberhasilan :

  • Seluruh pengurus departemen hadir (10 orang).
  • Aktif berdiskusi dalam forum.

Realita

Forum diskusi secara formal, hanya berlangsung sebanyak 1 kali. Untuk menyiasatinya, saat rapat internal departemen diadakan diskusi dengan isu uyang sedang ramai pada saat itu. Hal ini penting agar pengurus tidak menutup mata dan tidak peduli terhadap isu-isu yang berkembang. Isu yang sempat dibahas yaitu masalah UM UGM, TPS di kampus, dan Portal UGM.

Waktu dan tempat pelaksanaan : Selasa, 21 April 2009 16.00-17.30 WIB, sekre BEM KMFA UGM

Gambaran pelaksanaan kegiatan :

Kegiatan ini dihadiri oleh 10 staf dengan pembicara Budiyanto (Presiden Mahasiswa BEM KM UGM 2008). Materi yang disampaikan yaitu ideologisasi advokasi dan lanjutan dari materi Up Grading Departemen. Setelah itu, diadakan tanya jawab. Hal yang paling menarik dalam diskusi ini yaitu saat pembicara menceritakan kisah perjuangannya pada aksi 12 Mei 2008 di Jakarta yang mengusung isu Tugu Rakyat.

Output yang dicapai :

a.         Seluruh pengurus departemen hadir.

b.         Pemahaman tentang advokasi semakin baik.

Hambatan :

Jarang sekali mengadakan diskusi yang menghadirkan sumber atau pembicara yang kompeten, sedangkan dari diskusi internal hanya bisa sampai pada taraf berbagi keresahan dan belum mampu menghasilkan pemikiran-pemikiran baru.

Evaluasi :

  • Tema diskusi tidak hanya pada isu-isu yang sedang berkembang, tetapi juga harus menyentuh skill-skill keadvokasian.
  • Harus ada pemantik atau pengarah diskusi agar diskusi berjalan terarah.

3. Pengelolaan dan Inventarisasi Beasiswa

Idealita

Tujuan :

  • Tercipta database beasiswa dan penerimanya
  • Tidak ada mahasiswa yang memperoleh lebih dari 1 beasiswa
  • Penerima beasiswa dapat tepat sasaran dan lebih adil

Waktu pelaksanaan :

  • BAFUP : Maret 2009
  • BOP : Juni dan Desember 2009

Sasaran : mahasiswa Farmasi yang membutuhkan

Indikator keberhasilan :

  • Terkelola sesuai jadwal, beasiswa, dan daftar penerima terinventaris
  • Tidak ada mahasiswa yang complain terhadap hasil seleksi BOP dan BAFUP

Realita

a.          BAFUP (Beasiswa Alumni Farmasi UGM Peduli)

Waktu : 1-14 Maret 2009 dan 7-13 Oktober 2009

Gambaran pelaksanaan kegiatan :

  • Publikasi dilakukan sejak 1 Maret 2009, tetapi hingga hingga akhir pendaftaran hanya 2 orang yang mendaftar dan tidak memenuhi persyaratan.
  • Karena yang mendaftar tidak mencerminkan orang tidak mampu, akhirnya tidak diajukan.
  • Untuk sementara waktu, pendaftaran BAFUP ditutup.
  • Pada tanggal 7 Oktober 2009, pendaftaran kembali dibuka.
  • Akhirnya, ada 2 orang yang mendaftar dan memenuhi persyaratan, sehingga langsung dibuatkan SK. Pendaftar mendapatkan beasiswa sejak bulan Oktober 2009 hingga .September 2010. Sampai saat ini telah diberikan sebanyak 3 kali.
  • Dana yang diberikan, ditransfer ke nomer rekening salah satu staf departemen.
  1. Beasiswa BOP

Waktu : BOP Ganjil 09/10 : 8-19 Juni 2009

             BOP Genap 09/10 : 15-31 Desember 2009

Gambaran pelaksanaan kegiatan :

Pengelolaan Beasiswa BOP terdiri dari publikasi persyaratan, wawancara, dan seleksi (perangkingan).

Setelah mendapat SK dari rektorat ke fakultas, segera dibuat publikasi adanya beasiswa BOP ke seluruh mahasiswa S1 di Fakultas Farmasi UGM. Publikasi ini berisi tentang persyaratan (surat keterangan tidak mampu, bukti registrasi, FC KTM, FC KK, FC rekening listrik, Transkip nilai, FC surat penghasilan orang tua, mengisi surat pernyataan dari akademik dan BEM) dan alur pendaftaran dengan melengkapi persyaratan.

Wawancara dengan pihak BEM dan dilanjutkan dengan wawancara dengan WD III. Lalu, berkas dikumpulkan kepada pengelola di tingkat Fakultas. Pada hari terakhir wawancara, berkas diambil oleh pihak BEM dan dilakukan perangkingan.

Dari hasil proses penyeleksian ini, jumlah mahasiswa yang mendaftar adalah :

§   Beasiswa BOP Ganjil 09/10, untuk IPK di atas 2,75 ada 23 mahasiswa dan di bawah 2,75 ada 8 mahasiswa.

§   Beasiswa BOP Genap 09/10, belum dapat diketahui karena proses penyeleksian masih berlangsung.

Dari jumlah pendaftar itu, yang memperoleh beasiswa BOP Ganjil 09/10: untuk IPK di atas 2,75 ada 19 mahasiswa dan untuk IPK di bawah 2,75 ada 6 mahasiswa.

Output yang dicapai :

Pengelolaan beasiswa BOP dan BAFUP tepat sasaran. Hal ini dibuktikan dengan tidak ada mahasiswa yang complain terhadap hasil seleksi BOP dan BAFUP

Hambatan :

§   Mahasiswa kadang kurang tanggap dengan publikasi beasiswa sehingga tidak semua mahasiswa yang membutuhkan mendaftar.

§   Masih belum jelasnya SOP perangkingan, sehingga terkadang muncul sisi subjektifitas.

Evaluasi :

  • Pembuatan database beasiswa belum bisa dilaksanakan pada kepengurusan ini, karena kekurangfokusan kita pada agenda ini. Sudah ada inisiasi, tetapi dalam pelaksanaanya belum bisa optimal dalam mengumpulkan data-data mengenai beasiswa dan penerimanya.
  • Pada saat wawancara BOP dan BAFUP, diharapkan mampu mendapatkan informasi yang banyak dan tepat tentang kondisi ekonomi dari pendaftar.
  • Pembuatan SOP BOP diperlukan kecermatan dan perhitungan yang ketat, sehingga mampu meminimalisir sisi subjektifitas dalam perangkingan.
  • Diperlukan pembagian tugas yang sistematis agar mempermudah pekerjaan.

4. Sosialisasi Minat Angkatan 2008

Idealita

Tujuan : Penjelasan dari dekanat tentang mekanisme pemilihan minat angakatn 2008

Waktu pelaksanaan : pertengahan September 2009

Sasaran : mahasiswa Farmasi angkatan 2008

Output yang diharapkan :

Mekanisme pemilihan mampu disosialisasikan dengan baik, jauh-jauh hari, dan tidak merugikan mahasiswa.

Indikator keberhasilan :

Tidak ada mahasiswa angkatan 2008 yang protes terhadap mekanisme yang ada.

Realita

Waktu : Oktober 2009-Januari 2010

Gambaran pelaksanaan kegiatan :

Sejak tahun ajaran 2009-2010 dimulai, isu yang berkembang dengan hangat yaitu mengenai mekanisme pemilihan minat angkatan 2008. Berawal dari kondisi itulah, kami mencoba untuk menelusuri lebih lanjut kepada pihak akademik dan dekanat.

Ternyata, mereka sendiri belum mempunyai skema yang baku terkait hal tersebut, hingga akhirnya tersebutlah mekanisme pemilihannya berdasarkan IPK jika kuota tiap minat terlampaui. Mereka takut jika kejadian yang menimpa angkatan 2007 terulang lagi, yaitu karena tidak adanya kuota, mengakibatkan ada 1 minat yang jumlah mahasiswanya membengkak.

Ketika kami mengadakan polling terkait minat yang akan diambil dan mekanisme pemilihan yang diharapkan, ternyata membuktikan bahwa kemungkinan adanya pembengkakan akan sangat besar dan sebagian besar menginginkan 100% minat tanpa adanya perangkingan berdasarkan IPK.

Sebenarnya tidak ada masalah jika secara kebetulan waktu pembagian minat jumlah mahasiswa di ketiga minat seimbang, tapi akan sangat bermasalah jika ada lonjakan sangat besar di salah satu minat. Yang pada perkiraan kami yaitu FSI. Meskipun polling ini tidak bisa djadikan jaminan, tapi setidaknya itu sudah bisa dijadikan gambaran awal, atau bayangan untuk pemilihan nanti.

Setelah bertemu dengan pak dekan dan berbicara panjang lebar, didapatkan beberapa pernyataan. Yaitu, jumlah maksimal kelas tiap minat adalah 80 mahasiswa dengan kelembaman kurang lebih 5 mahasiswa. Hal-hal yang belum disepakati antara lain seandainya terjadi lonjakan maka parameter yang digunakan apa.

Oleh karena itu, kami akan terus mengawal isu ini sampai selesai (sekitar pengisian KRS) agar nantinya tidak ada pihak yang dirugikan. Seandainya pada saat pengisian KRS terjadi lonjakan, maka kami akan segera melobi pihak dekanat. Perjuangan ini akan terus berlanjut dan saat ini belum selesai.

Hambatan :

Kurang cepatnya kami dalam mengantisipasi kemungkinan yang terjadi.

Evaluasi :

  • Sejak awal, harus ada perhatian yang lebih terhadap isu ini, agar nantinya tidak lagi terjadi di angkatan berikutnya.
  • Lebih digalakkan komunikasi dengan pihak dekanat.

5. Hearing Dekanat (Polling Fasilitas I dan II)

Idealita

Tujuan : Wadah aspirasi mahasiswa pada sistem / kebijakan yang dibuat oleh dekanat.

Waktu pelaksanaan : Mei dan November 2009

Sasaran : mahasiswa Farmasi

Output yang diharapkan :

  • Solusi bersama
  • Perbaikan system

Realita

Terlaksana hearing, tapi bukan public hearing.

Waktu : Juni dan November 2009

Gambaran pelaksanaan kegiatan :

  • Penyebaran polling ke semua kelas (kecuali 05)
  • Perekapan hasil polling dan penyeleksian saran-saran tambahan yang akan dibawa ke dekanat.
  • Menyampaikan hasil rekapan ke pak Kharis selaku WD II. Beliau berjanji akan merealisasikan saran-saran yang diberikan. Tetapi, membutuhkan waktu alias tidak serta merta langsung diperbaiki. Karena terkait masalah pengadaan anggaran yang akan digunakan.

Hasil dari forum tersebut dapat dilihat dari fasilitas yang semakin baik, antara lain :alat-alat tulis di kelas, WC yang lebih bersih, dan adanya reboisasi di taman-taman Farmasi (diinisiasi saat P2SMB 09).

Output yang dicapai :

Adanya perbaikan dari fasilitas, walaupun belum keseluruhan.

Hambatan :

  • Mahasiswa kurang pro aktif dalam memanfaatkan sarana untuk menyampaikan kritik kepada pihak fakultas.
  • Kurangnya komunikasi antara departemen Advokasi dengan pihak dekanat, sehingga belum mampu mengadakan public hearing.
  • Belum mampu mengangkat isu ini menjadi bersama, atau hanya isu ini hanya berputar pada pihak-pihak yang benar peduli.

Evaluasi :

  • Belum dilakukan hearing terbuka untuk seluruh mahasiswa, baru ada forum-forum terbatas.
  • Kuatkan lagi komunikasi dengan pihak dekanat.
  • Acara hearing lebih dipersiapkan dengan matang

 

6. Advokasi SPMA

Idealita

Tujuan : Membantu lobi mahasiswa baru Farmasi 2009 terhadap birokrat kampus dalam upaya meringankan pembayaran SPMA.

Waktu pelaksanaan : Juni-awal Agustus 2009

Sasaran : mahasiswa baru Farmasi angkatan 2009 yang membutuhkan.

Indikator keberhasilan : Pembelaan atau pendampingan tepat sasaran.

Realita

Waktu : 18 Maret 2009-pertengahan Juli 2009

Gambaran pelaksanaan kegiatan :

Dalam melakukan fungsi Advokasi SPMA, departemen bekerja sama dengan Lembaga Eksekutif Fakultas dan Departemen Advokasi BEM-KM UGM.

Hal yang dilakukan oleh aliansi dikonsentrasikan menjadi 2 topik utama, yaitu Advokasi UM UGM dan Advokasi SNMPTN. Terkait UM UGM, yang dilakukan aliansi antara lain : membuat posko saat verifikasii, konsolidasi dengan Senat Akademik terkait pengawasan UM UGM, posko pengaduan UM-UGM (saat hari H pelaksanaan dan saat pra-registrasi MaBa), pamfletisasi. Sedangkan saat SNMPTN antara lain : posko saat registrasi dan pembentukan tim Advokasi SNMPTN.

  • UM UGM

Posko saat verifikasi berfungsi untuk sosialisasi adanya tim Advokasi. Pada saat hari-H, kami mengadakan posko Informasi UM UGM 2009 di Farmasi. Sasaran dari posko tersebut antara lain : menyebarkan isu bahwa tidak ada korelasi banyaknya SPMA dengan peluang diterimanya di UGM dan adanya praktek jual beli kursi.

Selain itu, kami bekerjasama dengan BEM KM UGM untuk menjaring mahasiswa yang mengalami kesulitan baik dalam proses registrasi maupun dalam proses mengajukan keringanan. Untuk calon MaBa yang tidak mampu diinformasikan untuk mengajukan permohonan ketidaksanggupan membayar SPMA dengan alasan dan syarat-syarat yang sudah ditentukan. Syarat-syarat tersebut dapat dikumpulkan di bagian Direktur Keuangan rektorat UGM. CaMa diminta untuk meninggalkan identitas dan alamat agar hingga batas yang ditentukan dapat menerima keputusan perihal keringanan yang akan diberikan oleh rektorat.

Saat pra-registrasi, gabungan dari BEM KM, LM, dan BEM masing-masing fakultas mendirikan posko di depan pintu pra-registrasi GSP. Hal ini diharapkan agar bagi mereka yang kurang mendapatkan informasi, atau menemui kesulitan dalam melakukan pra-registrasi dapat dibantu untuk menyelesaikan permasalahannya.

  • SNMPTN

Tidak berbeda jauh saat UM UGM, ketika SNMPTN juga dibentuk “Tim Advokasi SNMPTN 2009” yang berjumlah 7 orang. Rumpun Fakes diwakili oleh Dandiko Galanova (BEM KMFA UGM).

Hal utama yang difokuskan ada dua, yaitu peserta yang mengikuti ujian di Yogyakarta dan di luar Yogyakarta.

Bagi yang ujiannya di Yogyakarta, pada lembar yg dibagikan saat pemilihan jurusan (formulir pendaftaran) sudah dicantumkan selebaran tentang SPMA, sehingga mereka bisa mengisi, tapi bagi yg belum mengisi, saat mereka akan registrasi, telah disyaratkan untuk mengisi lembaran mengenai nominal SPMA yg akan dibayar.

Setelah ditanyakan kepada sebagian maba, mereka mengaku bahwa mereka terpaksa mengisi karena takut seandainya tidak diisi maka mereka gagal masuk UGM, bahkan ada salah satu maba ada yg mengakui bahwa mereka sampai berhutang hanya untuk mengisi SPMA.

Selanjutnya, kita menemui pihak rektorat dan bertemu dengan pak Sentot. Dari pembicaraan itu, intinya pihak universitas memberi kewenangan pada tim ini agar mahasiswa yang kita putuskan untuk dibantu tetap diterima di UGM meskipun mereka belum membayar SPMA.

Oleh karena itu, kita mencari mahasiswa yang belum membayar karena mereka tidak mampu. Setelah itu diseleksi, mana yg dicicil, dikurangi ataupun digratiskan. Karena bagaimanapun, kita tidak mau memberi penggratisan jika mereka sebenarnya mampu untuk membayar kurang, atau mampu membayar pas dengan waktu yang lebih diperpanjang (cicil). Dari mahasiswa baru tersebut, tidak ada yang berasal dari Farmasi.

Untuk kelanjutannya, mekanisme yang ditempuh, hamper sama dengan tim Advokasi UM UGM.

Evaluasi :

  • Proses pengadvokasian sudah berjalan baik.
  • Lebih berkoordinasi dengan LM / BEM fakultas lain tentang penyikapan masalah-masalah, mencari info yang lengkap terkait registrasi UM UGM dan SNMPTN.

7. Farmasi Peduli (FaPed)

Idealita

Tujuan :

  • Meringankan beban mahasiswa Farmasi yang kurang mampu dalam hal ekonomi
  • Memperkuat rasa solidaritas antarmahasiswa.

Waktu pelaksanaan : Selama kepengurusan

Sasaran : Mahasiswa Farmasi yang kurang mampu dalam hal ekonomi.

Output yang diharapkan :

  • Terbentuk SOP yang jelas
  • Pemberian dana berjalan lancar tiap bulannya

Indikator keberhasilan : Tepat sasaran

Realita

Gambaran pelaksanaan kegiatan :

Sejak awal kepengurusan, sudah mencoba diinisiasi dengan pembentukan tim yang akan mengurusi FaPed. Setelah itu, tim ini telah membuat alur atau semacam SOP berupa cara pengumpukan dan pemberian dana, selain itu juga criteria mahasiswa yang menerima dana tersebut.

Masalah mulai timbul saat masuk ke tataran teknis, di mana kondisi di internal tim mulai tidak solid yang menyebabkan kinerja tim terganggu. Sehingga rancangan-rancangan yang sudah dibuat menjadi terbengkalai. Pada saat itu, sudah ada sekitar 10 mahasiswa yang siap menjadi donatur.

Akhirnya, ketika angkatan 2009 masuk, dengan segenap tenaga tim ini mencoba bergerak kembali dan akhirnya mampu mengumpulkan 51 donatur. Untuk kepengurusan tahun ini, belum mampu menyalurkan dana tersebut dan perjuangan ini akan dilanjutkan oleh kepengurusan tahun depan.

Cara pengumpulan dana :

  • Mencari dan mendata mahasiswa yang mampu dan bersedia menjadi teman asuh
  • Membuat perjanjian dengan calon teman asuh – surat pernyataan
  • Dana dikumpulkan dari tiap-tiap teman asuh tiap bulan selama kurun waktu satu tahun.

Cara pemberian dana :

  • Dana diberikan kepada penerima tiap bulan.
    • Dana yang diberikan berupa dana cair sebesar Rp 100.000,00/bulan selama satu tahun.

Teman Asuh :

  • Didata berdasarkan BOP dan keseharian (tidak ada syarat IPK).
  • Diberi tiap bulan.

Output yang dicapai :

Hanya mampu merancang SOP yang natinya akan dijalankan kepengurusan berikutnya.

Hambatan:

  • Semangat yang mulai turun di tengah-tengah kepengurusan
  • Adanya konflik internal yang menyebabkan pekerjaan menjadi terbengkalai.

Evaluasi :

  • Butuh komitmen dan loyalitas yang tinggi dalam mengerjakan program ini, karena berjalan setiap bulan.
  • Teman asuh yang akan diberikan uang saku, hendaknya memang yang benar-benar membutuhkan.

8. Advokasi Mendengar

Idealita

Tujuan : Mengetahui masalah atau isu yang ada di lingkungan mahasiswa

Waktu pelaksanaan : Selama kepengurusan

Sasaran : Seluruh civitas akademika Farmasi

Output yang diharapkan : Terkumpulnya isu-isu yang selanjutnya akan dikaji, diblow up, dan dicarikan solusinya.

Indikator keberhasilan : Menjadi isu bersama

Realita

Gambaran pelaksanaan kegiatan :

Ketika awal kepengurusan, sudah ada usaha untuk mengawali yaitu dengan pembentukan kotak saran advokasi yang diletakkan di depan sekre KMFA UGM dan dibuat email advokasi. Namun, publikasi yang beredar di mahasiswa kurang begitu intens dan hanya satu kali saja tanpa adanya publikasi lanjutan. Sehingga kebanyakan mahasiswa tidak tahu mengenai keberadaan kotak dan email tersebut.

Output yang dicapai :

Hanya mampu membuat kotak dan alamat email, tanpa mampu mengembangkannya lebih lanjut.

Hambatan :

Publikasi yang kurang masif, menyebabkan tidak banyak mahasiswa yang mengetahui dan memanfaatkannya.

Evaluasi :

  • Tingkatkan lagi publikasi kepada mahasiswa
  • Maksimalkan semua media yang ada, akan lebih baik lagi jika ada group atau account di FB yang mampu menjembatani mahasiswa dengan Advokasi

9. Silaturrahim Advokasi

Idealita

Tujuan :

  • Menjalin koneksi dan kerjasama dengan jejaring yang ada.
  • Membahas isu-isu yang berkembang dan merumuskan langkah konkret dalam menyikapinya.

Waktu pelaksanaan : Selama kepengurusan

Sasaran : Ketua kelas, jaringan Advokasi se-Fakes dan se-UGM

Output yang diharapkan :

  • Mempererat hubungan antara kedua belah pihak.
  • Terkumpulnya isu-isu yang selanjutnya akan dikaji, diblow up, dan dicarikan solusinya.

Indikator keberhasilan : Sinergisitas dan terjalin simbiosis mutualisme.

Realita

Gambaran pelaksanaan kegiatan :

  • Pertengahan Maret : Forum Ketua Kelas (perkenalan Advokasi tahun ini, siap meanmpung keluhan-keluhan dari mahasiswa terkait akademik dan fasilitas, dan follow up dari forum ini)
  • 7-8 Maret 2009 @ Isipol : Lokakarya Advokasi (evaluasi Advokasi tahun lalu, share lembaga, dan agenda Advokasi tahun ini)
  • Rakor se-UGM terkait persiapan Advoaksi SPMA
  • 30 Mei 2009 @ FKG : Kongres Aliansi Fakes

Salah satu jaringan yang menjadi prioritas tahun ini adalah jaringan Fakes. Harapan akan kembali solidnya jaringan ini sempat muncul saat ada konres se-Fakes. Namun, lagi-lagi hangat-hangat tahi ayam. Ketika menjelang kongres tersebut, kami beberapa kali kumpul dan merencanakan berbagai macam agenda. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, kami tidak pernah kumpul, bisa dibilang jalan sendiri-sendiri.

Saat Advokasi Farmasi mencoba menghubungi FKG dan FK, mereka tidak menanggapi, sehingga agenda jaringan fakes yang sempat direncanakan belum sempat terlaksana. Bahkan, ketika Fakes diminta untuk membahas isu Dies Natalis masalah kurikulum, hanya FK yang membahas dan belum pernah ada semacam share info.

Output yang dicapai :

a.         Jaringan dengan Advokasi se-UGM semakin erat, sedangkan dengan ketua kelas sudah mulai terbentuk.

b.         Mengenai jaringan se-Fakes, hanya sebatas pada perencanaan dan belum ada tindakan nyata.

Hambatan :

  • Sulitnya mengumpulkan ketiga fakultas tersebut, dikarenakan kesibukan masing-masing.
  • Kurangnya kesadaran untuk membangun sebuah jaringan Fakes.

Evaluasi :

  • Munculkan lagi semangat di antara FA, FKG, dan FK.
  • Luangkan waktu sejenak untuk berkumpul dengan teman-teman aliansi.

10. Penyikapan Momen-momen Khusus

Idealita

Tujuan : Mengasah kepekaan dan kepedulian mahasiswa terhadap momen –momen khusus.

Waktu pelaksanaan : Selama kepengurusan

Sasaran : civitas akademika Farmasi UGM

Output yang diharapkan : Mahasiswa peduli terhadap momen tersebut.

Realita

Gambaran pelaksanaan kegiatan :

  • 2 Mei (Hari Pendidikan Nasional) : pemasangan pamflet di tempat-tempat strategis dan diskusi umum.
  • 20 Mei (Hari Kebangkitan Nasional) : diskusi publik
  • 20 Oktober 2009 (Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI) : pemasangan artikel di tempat strategis.

Hambatan :

  • Persiapan yang mepet, sehingga hasilnya kurang maksimal.
  • Kurangnya kesadaran dari staf sendiri untuk memperingati momen tersebut.

Evaluasi :

Penyikapan momen khusus tidak hanya dilakukan dengan penempelan pamflet, tetapi lebih ditekankan pada partisipasi aktif dari mahasiswa.

11. Diskusi Umum

Idealita

Tujuan : Menyebarluaskan, mengkaji, dan meningkatkan kekritisan mahasiswa terhadap isu yang sedang berkembang.

Waktu pelaksanaan: 3 kali selama kepengurusan

Sasaran : Mahasiswa Farmasi

Output yang diharapkan : Peduli dan kritis terhadap isu yang berkembang

Indikator keberhasilan :

  • Dihadiri minimal 30 mahasiswa.
  • Aktif berdiskusi dalam forum.

Realita

Diskusi berlangsung sebanyak 3 kali.

Gambaran pelaksanaan kegiatan :

  • Diskusi Publik “Harapan Tinggal Harapan Indonesia Sehat 2010”

Bekerja sama dengan Departemen Kajian Strategis BEM KMFA UGM UGM

  • Diskusi Umum “BHP:Solusi Pendidikan yang Masih Dipertanyakan”

Pembicara : Qadaruddin Fajri Adi (Presiden Mahasiswa BEM KM UGM 2009)

Waktu dan Tempat : Kamis, 21 Mei 2009 pukul 10.00-12.00 WIB, sekre KMFA UGM UGM

UGM yang selama ini telah menjadi simbol universitas kerakyatan di mata masyarakat telah melakukan perubahan besar yang mengundang tanya dari banyak pihak. UGM telah beralih dari PTN menjadi PT-BHMN lau berubah menjadi BHP. Perubahan tersebut bukannya tanpa pertimbangan akan efek samping yang akan ditimbulkan. Salah satu efek samping yang paling nyata dirasakan langsung oleh mahasiswa adalah peningkatan biaya pendidikan yang mencapai 1000%. Adanya kenaikan biaya tersebut merupakan salah satu dampak negatif dari regulasi BHP yang menyatakan bahwa instansi pendidikan tersebut berdaulat penuh akan kegiatan-kegiatannya

Banyak pihak yang telah berkomentar terhadap perubahan-perubahan tersebut baik itu dari pihak ekonomi yang pro karena dinilai akan dapat meningkatkankan pendapatan negara dengan adanya alokasi dana PTN yang dapat dialihkan untuk keperluan-keperluan negara lainnya, maupun dari pihak mahasiswa yang tentunya dirugikan karena merasa kebutuhannya untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu dengan biaya yang terjangkau semakin dipersulit saja.

Melalui diskusi ini kami berharap dapat membuka wawasan teman-teman mahasiswa tentang sisi baik dan sisi buruk dari BHP. Sehingga setelah mengikuti diskusi ini mahasiswa dapat memberikan pandangannya mengenai BHP, juga mengemukakan berbagai opsi yang mungkin dapat menjadi solusi dari masalah BHP tersebut.

Kegiatan ini dihadiri oleh 12 mahasiswa. Materi yang disampaikan yaitu mengenai sejarah terbentuknya BHP, efek-efek yang terasa di UGM, dan tinjuan beberapa pasal yang ada dalam UU BHP. Setelah itu, diadakan tanya jawab.

  • Role Play “Kontroversi Portal di UGM”

Waktu dan tempat : Selasa 24 November 2009 pukul 16.30-17.30 WIB, lorong BEM KMFA UGM.

Dengan dalih konsep “World Class Research University”, UGM membangun portal di beberapa titik UGM. Ternyata pembangunan ini menimbulkan banyak masalah, mulai semakin berkurangnya akses masyarakat ke kampus UGM, adanya pungutan liar, dan aefek yang paling lagi yaitu semakin memudarnya citra UGM sebagai “kampus kerakyatan”.

Mencoba untuk mengkritisi hal tersebut, akhirnya kami melakukan pemblow up-an dengan model role play. Di mana staf departemen bermain sebagai pihak rektorat, mahasiswa, perusahaan swasta, dan masyarakat umum. Hal ini merupakan terobosan baru, karena pada kepengurusan sebelumnya belum ada acara dengan konsep seperti ini.

Ternyata model seperti ini membuat kami harus belajar dan mencari tahu tentang isu tersebut. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah, karena banyak sekali pandangan-pandangan yang beredar dari keempat belah pihak dan harus kami pilah-pilah mana yang akan ditampilkan.

Acara ini dihadiri sekitar 20 mahasiswa. Pada acara tersebut, tidak hanya kami yang mencoba memberikan pendapatnya, tetapi mahasiswa yang lain juga mencoba berpenadapat. Ternyata, dalam pemblow up-an isu, memang dibutuhkan inovasi-inovasi agar mahasiswa lebih tertarik untuk menyikapinya.

Output yang dicapai :

a.         Belum banyak mahasiswa yang hadir.

b.         Dengan model role play, meyebabkan kita banyak-banyak mencari tahu tentang isu tersebut.

Hambatan :

  • Publikasi yang belum masif.
  • Waktunya yang terlalu sedikit, karena masih banyak hal yang belum disampaikan.

Evaluasi :

  • Harus ada pemantik atau pengarah diskusi agar diskusi berjalan terarah.
  • Mulainya lebih awal, supaya waktu diskusi lebih panjang (karena temanya menarik dan pesertanya cukup antusias)
  • Publikasinya lebih semarak lagi, selain diedarin di kelas & ditempel, perlu juga woro-woro di depan kelas
  • Butuh inovasi dalam pemblowup-an isu, jangan terpaku pada metode-metode yang sudah ada.

IV.        Analisis Kondisi Departemen

Struktur dari Departemen Advokasi tahun ini adalah sebagai berikut :

Berdasarkan arahan kerja dari Ketua BEM, untuk tahun ini Departemen Advokasi dibagi menjadi dua divisi, yaitu Divisi Jaringan & Investigasi dan Divisi Pembelaan Mahasiswa. Di mana Divisi Jaringan & Investigasi berfungsi untuk menjalin komunikasi dan koordinasi dengan elemen serta menghimpun informasi dan pengaduan-pengaduan dari mahasiswa. Sementara Divisi Pembelaan Mahasiswa lebih ditekankan pada perjuangan dan pembelaan terhadapa masalah-masalah yang ada. Selain itu, juga terdapat staf ahli yang berfungsi sebagai pemberi masukan atau pertimbangan dan teman curhat KaDept terakait kinerja dari departemen.

Dari 10 orang pengurus yang ada, hanya 6 atau 7 orang yang mampu konsisten dalam departemen ini. Hal ini dikarenakan adanya amanah di tempat lain sehingga Advokasi kurang begitu diperhatikan, masalah pribadi yang berefek pada vakumnya salah seorang pengurus, dan padatnya aktifitas akademik yang tidak diimbangi dengan manajemen diri yang baik. Namun, harapan baru muncul ketika teman-teman magang 2009 yang berjumlah 4 orang datang. Yah, mereka adalah tunas-tunas baru yang siap berkontribusi.

Salah satu faktor yang cukup memprihatinkan yaitu adanya masalah pribadi yang terjadi antar staf. Masalah tersebut berjalan cukup lama dan pada awalnya tidak terdeteksi oleh KaDept. Namun, setelah adanya curhatan dari salah seorang staf, akhirnya masalah tersebut mencoba diselesaikan dengan bantuan staf ahli. Lagi-lagi masalah pribadi muncul lagi, efeknya bahkan lebih parah. Salah seorang staf berhasil dengan sukses vakum dan sampai sekarang tidak menampakkan batang hidungnya.

Faktor lain yang berperan yaitu militansi. Sebagai seorang advokat, memang dituntut memiliki sikap militansi dan siap untuk digerakkan. Pada awalnya, keadaan berjalan seperti biasa, hingga masalah muncul di tengah-tengah kepengurusan. Staf mulai merasa bosan dan berat untuk bergerak. Dan terapi yang diberikan sepertinya sudah terlambat dan mulai menggerogoti staf yang lain. Dengan melihat kondisi internal yang seperti itu, menyebabkan kinerja dari departemen kurang begitu maksimal dan hanya pada tataran teknis atau bahasa kasarnya hanya menjadi petugas administrative seperti pada proker beasiswa BOP dan BAFUP.

Hal ini terlihat dari kurang cepatnya gerak departemen ketika menghadapi isu, sehingga yang terjadi adalah sikap reaktif, dan bukan proaktif. Contoh yang nyata saat isu minat angkatan 2008 bergulir. Departemen belum mampu langsung menanggapi secara strategis dan langkah gerak yang dilakukan terkesan terburu-buru tanpa pertimbangan yang matang. Walaupun pada akhirnya, isu ini mampu dikawal dan hasilnya sudah dirasakan yaitu kuliah tamu kembali melibatkan mahasiswa, tidak sepenuhnya dipegang oleh dekanat.

Diskusi-diskusi dan hearing dengan dekanat yang selama ini menjadi agenda rutin departemen juga kurang tergarap dengan baik. Program yang berjalan hanya terkesan untuk menyelesaikan proker tanpa menyentuh sisi-sisi advokasi. Diskusi hanya bberjalan sebanyak 3 kali dan kurang mendapat tempat di mahasiswa yang dibuktikan dengan sedikitnya mahasiswa yang hadir. Hearing juga belum terlaksana dan hanya staf yang bertemu dengan dekanat untuk menyampaikan aspirasi dari mahasiswa.

Dari fungsi jaringan, baik itu ke luar Farmasi (Fakes dan UGM) atau ke dalam (dekanat, mahasiswa, dan karyawan). Advokasi ke karyawan dengan kultural tidak trlalu efektif, jangan-jangan ada masalah yang sebenarnya penting tapi tidak sampai ke kita. Mungkin, karyawan bukan subjek advokasi yg utama, karena bukan yang utama mestinya dibuat sistem yg efektif, walaupun jalannya cuma sekali, namun tetap bisa mengcovernya. Untuk jaringan ke UGM, tampaknya kita memang selalu terlihat sebagai wakil dari Fakes. Kita sudah cukup aktif di sana walaupun belum mampu mengiikuti gerak mereka. Lalu yang harus mendapat perhatian yang ekstra adalah jaringan Fakes. Selama ini hanya terbatas pada wacana, wacana, wacana, dan belum ada tindakan yang nyata. Hal ini terkendala pada masalah koordinasi dan kesibukan dari masing-masing lembaga

Hal yang baru pada kepengurusan tahun ini adalah adanya program Teman Asuh “Farmasi Peduli”. Walaupun belum mampu berjalan, namun minimal sudah ada niat untuk menginisiasi dan siap untuk dieksekusi pada kepengurusan berikutnya. Selain itu, mencoba untuk menggunakan metode baru dalam penyampaian isu kepada teman-teman mahasiswa, yaitu metode role play. Metode ini diharapkan mampu untuk menumbuhkan rasa keingintahuan dan kepedulian dari mahasiswa terhadap isu yang sedang berkembang.

V.           Evaluasi Kinerja Departemen

Militansi dan kesolidan menjadi dasar dari kurang maksimalnya kinerja departemen tahun ini. Dibutuhkan metode dan kiat yang tepat agar kedua hal tersebut tidak terulang lagi pada kepengurusan berikutnya. Bangun dan pupuk terus dua hal tersebut dan nimatilah saat memetik hasilnya kelak.

Diskusi internal yang menjadi sarana pengupgrade-an staf sebenarnya sudah cukup bagus. Namun, sejatinya fungsi advokasi tidak hanya untuk staf advokasi saja. Jiwa advokasi harus dimliki oleh setiap anggota BEM. Yang menjadi permasalahan adalah siapa di lembaga yang bertugas untuk menanamkan jiwa advokasi ke staf BEM yang lain. Tapi, sebaiknya advokasi turut ambil bagian dalam hal itu.

Untuk membina jaringan ke dekanat harus lebih diintenskan lagi. Perwajahan yang cukup lugu terkadang diperlukan agar tidak dicap radikal dan tampilkan sisi kesungguhan dan kebermanfaatan advokasi.

Mengenai jaringan ke BEM KM, sebenarnya bisa digunakan sebagai sarana pembelajaran bagi staf, yaitu dengan cara mengajak mereka untuk menemani KaDept saat rakor, karena tampaknya di sana informasi lebih banyak yg masuk.

Tentang jaringan Fakes, memang dibutuhkan waktu yang cukup panjang untuk berkumpul dengan teman-teman FKG dan FK, karena di luar sana masih banyak maslah kesehatan yang membutuhkan perhatian dari Fakes.

VI.        Rekomendasi

a. Struktur departemen, alangkah baiknya jika tidak dibagi menjadi divisi-divisi. Tetapi, setiap staf menjadi PJ dari isu yang muncul. Ketika, setiap staf menjadi PJ, maka akan timbul rasa tanggung jawab dan semangat dari staf tersebut serta lebih bisa membuat kinerja staf seimbang.

b. KaDept harus mempunyai kapasitas dan kemauan untuk terus bergerak. Diharapkan KaDept mendatang untuk lebih intens lagi ”bergaul” dengan teman-teman Advokasi se-Fakes dan se-UGM

c. Mengenai internal departemen, KaDept dapat dibantu oleh Deputi. Jika diibaratkan sebuah keluarga, KaDept adalah sosok bapak yang aktif mencari nafkah di luar, namun tidak melupakan tanggung jawabnya sebagi kepala keluarga. Sedangkan Deputi merupakan seorang ibu yang senantiasa mengayomi, berusaha mendekatkan setiap anggota keluarganya, dan mendamaikan permasalahan yang ada.

d. Hal yang harus ditanamkan sejak awal, yaitu tentang militansi dan kesolidan dari departemen. Mengenai militansi, bisa dipupuk melalui membaca buku, diskusi, dan sering-sering diajak mendampingi KaDept saat rakor. Tentang kesolidan, coba dibangun lewat pendekatan kultural dan komuniaksi yang intens.

e. Butuh orang–orang yang tangguh, berani, dan berdedikasi tinggi untuk menggerakkan dan berjuang di Departemen Advokasi, karena memang dalam geraknya dibutuhkan kesungguhan, kepahaman konsep advokasi, dan skill-skill yang mendukung.

f. Butuh metode yang inovatif dalam penyampaian isu. Gunakan semua media dan sarana yang ada. Coba bangun kultur diskusi di dunia maya (Facebook atau milis misalnya).

g. Sering-seringlah mengadakan diskusi sebagai sarana peng-upgrade-an, sehingga staf tidak terjebak pada tataran teknis saja.

h. Di awal kepengurusan, tajamkan lagi analisis terhadap isu-isu yang berkembang baik di lingkup fakultas maupun universitas. Sehingga, kita tidak langsung reaktif terhadap isu, namun lebih bersifat proaktif.

i. Optimalkan jumlah staf, jangan terlalu banyak ataupun terlalu sedikit. Lihat kebutuhan ketika akan mengambil staf.

j. Jaringan rumpun Fakes lebih ditingkatkan lagi.

k. Advokasi Mendengar lebih efektif dijadikan satu dengan Hearing Dekanat, karena muara dari isu-isu yang ada di fakultas pasti ke dekanat.

l. SOP tentang FaPed dan BOP sudah ada, tinggal dijalankan dengan sebaik-baiknya.

 

VII.     Penutup

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah, akhirnya amanah yang ada selama 1 tahun ini berakhir sudah. Namun, perjuangan tidak akan berakhir hanya pada kesempatan ini saja. Masih banyak tantangan dan amanah di luar sana yang menuntut kontribusi nyata kita.

”Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” Al Insyirah:7

Akhirnya, hanya kepada Allah-lah kita bersyukur, memohon ampun, dan berserah diri…

”dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaklah kamu berharap” Al Insyirah:8

Jazakumullah khairan katsir kepada teman-teman, yang telah berjuang, berkorban, dan berusaha bersama-sama melakukan perbaikan…

”Jika kita bukan bagian dari penyelesaian, berarti kita merupakan bagian dari persoalan” Mengubah Kebijakan Publik

Yogyakarta, di penghujung tahun 2009

Kepala Departemen Advokasi BEM KMFA UGM 2009

Nurul Hilalussodik Al Fauzani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s