Drama 2 Babak, 1 Kartu Kuning, dan 2 Penalti

Standar

Pharmaciade cabang sepakbola kembali digelar. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini, Medicament tidak bisa menampilkan seluruh pemain terbaiknya, karena banyak punggawa tim tidak berada di Yogyakarta alias sedang melaksanakan PKPA. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dalam ajang Pharmaciade 2012, Medicament tidak menargetkan untuk mempertahankan medali emas yang didapatkan tahun lalu. Yang terpenting, dalam setiap pertandingan minimal bisa datang 14 pemain dan mampu menampilkan yang terbaik. Untuk hasilnya, serahkan kepada Yang Maha Kuasa.

Pertandingan pertama Medicament berlangsung pada hari Ahad tanggal 8 April 2012 jam 8 pagi melawan angkatan 2010 yang sekaligus merupakan pertandingan pertama Pharmaciade 2012 cabang sepak bola. Melihat pertemuan terakhir mereka, banyak pengamat yang memprediksi Medicament akan dengan mudah mengalahkan adik tingkatnya. Namun, sekarang adalah harapan dan tahun lalu adalah kenangan, serta bola itu bundar, jadi masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi, apalagi sang juara bertahan dipastikan tidak akan full team.

Menjelang kick off babak pertama, pemain Medicament yang datang baru 10 orang, sehingga manajer Ocky yang kurang fit harus turun ke lapangan dengan menggunakan kemeja batik bola. Dengan jumlah pemain yang sangat terbatas menyebabkan manajer dan seluruh pemain berpikir keras mengenai formasi dan strategi apa yang akan digunakan. Stamina yang pasti akan terkuras dan jumlah pemain lawan yang jauh lebih banyak juga menjadi pertimbangan. Setelah berdiskusi, akhirnya disepakati bahwa formasi yang akan digunakan yaitu 4-4-2 dengan Ocky sebagai kiper; Hilal, K. Veasna, Bagus, dan Muslim bertugas di benteng pertahanan; Luthfi, Naufal, Meida, dan Ojik akan mengawal lini tengah; dan untuk posisi penyerang diisi duet Aziz dan Rais.

Peluit babak pertama pun dibunyikan oleh wasit, Muchtar (2009). Angkatan 2010 yang memiliki stok pemain pengganti lebih banyak langsung mengambil inisiatif serangan, walaupun serangan yang dibangun berhasil disapu oleh kuartet pertahanan maupun dihentikan oleh kiper. Medicament juga tidak mau kalah, dengan mengandalkan skill individu dan kerja sama dari trisula Meida, Aziz, dan Rais, mereka bertiga mengacak-acak jantung pertahanan 2010. Zein, kiper 2010 dengan sukses menggagalkan beberapa tendangan yang coba dilepaskan oleh trisula Medicament. Hingga pertengahan babak pertama belum ada gol yang tercipta.

Aziz yang baru datang dari Jakarta seperti kehabisan stamina, sehingga pada menit ke-17 digantikan oleh M. Lutfi. Masuknya Lutfi membuat skema permainan sedikit berubah. Meida mengisi posisi yang ditinggalkan Aziz dan Lutfi berperan sebagai penyeimbang di lini tengah. Tiga menit kemudian, pelanggaran terjadi di depan kotak penalti 2010. Ocky yang dikenal sebagai spesialis tendangan bebas mencoba mengambil kesempatan tersebut, walaupun harus meninggalkan gawangnya. Pengorbanan yang tidak sia-sia, karena bola tendangan bebasnya meluncur deras ke gawang tanpa bisa diantisipasi oleh Zein. 1-0 untuk Medicament.

Angkatan 2010 tersengat, sehingga selepas kick off langsung menyerang Medicament yang di saat bersamaan, tiang kembar K. Veasna dan Bagus justru meninggalkan lapangan sejenak. Upaya 2010 membuahkan hasil. Dalam 1 serangan kilat, mereka sukses memerdaya pemain belakang yang hanya tersisa 2 orang dan dengan tendangan yang cukup keras, Ivan merobek gawang Medicament. Kedudukan sekarang 1-1. Sementara itu, di pinggir lapangan, K. Veasna hanya tersenyum kecut dan setibanya di lapangan langsung dikritik oleh Ocky. Menit-menit berikutnya, kedua tim tampak kelelahan dan bola lebih banyak berada di tengah lapangan. Babak pertama berakhir dengan kedudukan 1-1.

Babak kedua dimulai dengan serangan yang dibangun oleh Medicament. Dengan stamina yang telah terisi kembali, mereka mencoba untuk menusuk pertahanan 2010 melalui umpan satu dua. Namun, seperti di babak pertama, serangan mereka bisa digagalkan oleh bek 2010. Hal yang berbeda dilakukan oleh 2010. Jika di babak pertama mereka menyerang sisi kanan Medicament, di babak kedua membombardir sisi kiri. Ada 2 hingga 3 pemain 2010 yang bertugas di sisi kiri Medicament yang dijaga oleh Hilal. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Medicament melakukan strategi offside trap yang berfungsi untuk meredam pergerakan dari pemain lawan.

Drama mencapai klimaksnya di menit ke-47. Berawal dari pergerakan yang gagal dibendung oleh barisan pertahanan Medicament, Ocky berhasil menepis tendangan yang mengarah ke gawangnya. Akan tetapi, bola muntah mengarah ke Irsyad yang tinggal menceploskan bola ke gawang kosong, karena Ocky sudah tidak bisa menjangkau bola. Tiba-tiba, dari arah belakang Hilal menarik kaos dan menjatuhkan Irsyad. Peluit berbunyi, wasit menunjuk titik putih, dan kartu kuningpun dilayangkan ke Hilal. Tragedi Luis Suarez di Piala Dunia 2010 terulang kembali. Alif yang menjadi algojo gagal menyarangkan bola ke gawang, karena bola tendangannya melambung di atas gawang Medicament.

Pergantian posisi dilakukan oleh Medicament, Ocky menjadi penyerang dan Naufal yang menjadi kiper, sehingga formasi berubah menjadi 4-3-3. Pada menit ke-50, Syahri menjalani debut atau bermain untuk pertama kalinya dengan masuk menggantikan Muslim. Seakan-akan mendapatkan tenaga tambahan, Medicament terus menyerang, terlebih lagi pejagaan yang diberikan kepada Ocky, Rais, dan Meida membuat Syahri berdiri bebas tanpa pengawalan. Lewat 2 kali percobaan, salah satunya tendangan salto, Syahri hampir saja menjebol gawang 2010. Di lain pihak, 2010 nampak kelelahan yang menyebabkan umpan-umpan mereka mulai tidak akurat dan sering melakukan kesalahan sendiri.

Ketika seluruh pemain dan penonton menyangka pertandingan akan berakhir seri, terjadi klimaks untuk kedua kalinya. Ocky yang melakukan penetrasi di kotak penalti 2010 dihentikan oleh pemain belakang. Wasitpun tanpa ragu menunjuk titik putih untuk kedua kalinya. Tanpa mengambil resiko, Meida mengarahkan bola ke sisi kanan gawang dan masuk. 2-1 untuk keunggulan Medicament. Menit-menit akhir terasa lama untuk Medicament. Mereka hanya memainkan bola di daerahnya sendiri dan berusaha untuk mengatur permainan. Akhirnya peluit tanda berakhirnya pertandingan pun berbunyi dan skor akhir 2-1 untuk kemenangan Medicament. Dalam setiap pertandingan pasti ada sosok yang dipilih sebagai pemain terbaik dan dalam pertandingan ini pantas diberikan kepada Ocky, karena sumbangan 1 golnya dan penyebab terjadinya gol kedua.

Walaupun memetik kemenangan, namun jika dilihat dari kualitas permainan, Medicament mengalami penurunan. Umpan-umpan mudah terbaca, sering kehilangan bola, dan kurangnya komunikasi antarpemain. Hal ini patut menjadi perhatian dan harus segera ditemukan solusinya, karena masih ada 3 pertandingan lagi yang pastinya lebih berat. Semoga di pertandingan-pertandingan berikutnya Medicament diberikan keberuntungan (lagi)…

Yogyakarta, 12 April 2012

Medicament 2007 (2 : 1) 2010

(Ocky 20′, Meida pen 60′)

2007

7-Ocky; 28-Hilal (kk 47′), 22-K.Veasna, 66-Bagus, 18-Muslim (20-Syahri 50′); 34-Murojil, 25-Luthfi, 19-M.Naufal; 10-Meida, 5-Aziz (c) (16-M.Lutfi P. 17′), 8-Rais

3 responses »

  1. Ping-balik: Giallonero Telah Kembali « —nurulhilalussodikalfauzani—

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s