Apotekerokok

Standar

Apoteker mengabdikan diri di industri (obat, makanan, dan kosmetik), apotek, rumah sakit, pendidik, dan peneliti itu sudah biasa. Hal yang luar biasa jika ada apoteker yang alih jalur, bekerja di bidang lain, dan sukses. Lebih dahsyat dan menakjubkan lagi, seandainya apoteker mencari penghasilan di industri tembakau (rokok1)).

Aku mengetahui hal tersebut belum lama. Semuanya berawal dari kuliah Etika dan Perundang-undangan Farmasi hari Senin 30 April 2012 yang disampaikan oleh Ibu Bondan Ardiningtyas, S.Si., M.Sc., Apt. (Sekretaris PD IAI DIY). Pada saat itu beliau memaparkan bahwa pabrik rokok juga membutuhkan apoteker untuk menganalisis kandungan nikotin2) dan tar3) dalam rokok.

Ketika itu, aku teringat novel berjudul Thank You for Smoking karangan Christopher Buckley yang difilmkan pada tahun 2005. Novel itu menceritakan sosok Nick Naylor, seorang juru bicara industri tembakau (Academy of Tobacco Studies) yang harus menghadapi tekanan dari kelompok antirokok termasuk Senator Amerika Serikat. Di sisi lain, dia bekerja di sana hanya untuk menghidupi dan menyekolahkan anaknya. Dengan gaji yang sangat tinggi dan ditambah berbagai fasilitas yang diberikan, sudah tentu Nick merasa nyaman.

Menurutku, terdapat persamaan antara Nick dengan apoteker yang bekerja di industri tembakau (rokok). Mereka mengetahui bahwa yang dilakukan ini tidak benar karena mencari uang dari “sesuatu yang sangat banyak keburukannya”, namun dengan alasan gaji yang lebih tinggi jika dibandingkan bekerja di industri lain, akhirnya mereka mengabaikannya.

Selepas kuliah, aku mencoba mencari tahu, kira-kira industri apa saja yang pernah membuka lowongan pekerjaan untuk apoteker. Ternyata sangat sulit mendapatkan informasinya. Beruntung ada kakak angkatan yang memberitahu aku. Beliau mengetahui bahwa pada tahun 2010 ada 2 industri tembakau (rokok) yang membutuhkan apoteker yaitu Gudang Garam dan Sampoerna.

Berbekal informasi yang berharga tersebut, aku melakukan pencarian kembali dengan kata kunci yang lebih spesifik. Pada akhirnya diketahui, kedua industri tersebut mencari apoteker untuk bekerja sebagai Analis Laborat, QC Inspektur, ataupun Process Control Supervisor (QC). Persyaratannya yaitu harus kompeten di bidang kimia analisis, paham GLP (Good Laboratory Practice), terampil menggunakan instrumen untuk analisis seperti GC, GC-MS, HPLC, dan menguasai Bahasa Inggris.

Keterlibatan apoteker di industri tembakau (rokok) dimulai dengan terbitnya PP No. 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan yang menggantikan PP No. 81 Tahun 1999 dan PP No. 38 Tahun 2000. Pada PP No. 19 Tahun 2003 Pasal 4 Ayat (1), disebutkan bahwa setiap orang yang memproduksi rokok wajib melakukan pemeriksaan kandungan kadar nikotin dan tar pada setiap hasil produksinya; dan dilanjutkan pada Ayat (2) yaitu pemeriksaan kandungan kadar nikotin dan tar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan di laboratorium yang sudah terakreditasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 62/MPP/Kep/2/2004 tentang Pedoman Cara Uji Kandungan Kadar Nikotin dan Tar Rokok, terdapat 9 laboratorium penguji rokok, yaitu:

  • Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional, Badan POM
  • PT. HM. Sampoerna Tbk.
  • PT. Gudang Garam Tbk.
  • PT. Djarum Kudus
  • PT. Gelora Djaja
  • PT. Nojorono Tobacco International
  • PT. Bentoel
  • PT. Sumatera Tobacco Trading Company (STTC)
  • PT. BAT Indonesia

Masing-masing laboratorium tersebut harus memiliki Sertifikat Akreditasi Laboratorium yang disahkan oleh Sekretaris Jenderal Komite Akreditasi Nasional. Sebagai contoh pada PT. STTC yang telah terakreditasi pada tanggal 11 Mei 2009 dan berlaku hingga 10 Mei 2013. Jenis pengujian atau sifat-sifat yang dikur yang telah terakreditasi yaitu:

1.  Rokok putih

  • Jumlah partikel pada asap (total particulate matter/TPM)
  • Jumlah hisapan (puff number)
  • CO (carbon monoxide)
  • Air (water)
  • Nikotin (nicotine)
  • Tar

2.  Rokok kretek

  • Jumlah partikel pada asap (total particulate matter/TPM)
  • Jumlah hisapan (puff number)
  • CO (carbon monoxide)
  • Air (water)
  • Nikotin (nicotine)
  • Eugenol
  • Tar

3.  Tembakau

  • Air (water)
  • Nikotin (nicotine)
  • Reducing sugar

Tidak hanya di internal industri tembakau (rokok) saja, tetapi rokok yang sudah beredarpun tetap tidak bisa lepas dari peranan apoteker. Pada PP No. 19 Tahun 2003 Pasal 36 Ayat (1), disebutkan bahwa pengawasan terhadap produk rokok yang beredar dan iklan dilaksanakan oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan, dan dilanjutkan pada Ayat (2) yang intinya Kepala Badan POM diberikan kewenangan untuk melakukan tindakan administratif dengan memberikan teguran (lisan dan tertulis) dan/atau memberikan rekomendasi untuk menghentikan atau mencabut izin.

Oleh karena itu, berdasarkan peraturan perundang-undangan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa peranan apoteker yang berhubungan dengan industri tembakau (rokok) yaitu:

  • Jika apoteker bekerja secara langsung di industri tembakau (rokok), maka tugasnya menganalisis kadar nikotin dan tar dalam rokok.
  • Sedangkan jika berada di Badan POM, maka tugasnya melakukan pengawasan terhadap rokok dan iklannya yang beredar serta melakukan tindakan administratif jika terjadi pelanggaran.

Seandainya suatu saat nanti, ketika aku sudah disumpah sebagai seorang apoteker dan mendapatkan kesempatan untuk bekerja di industri tembakau (rokok), maka aku akan memilih untuk menghentikan produksi rokok dan memberikan tekanan kepada Menteri Pertanian untuk segera melaksanakan diversifikasi tanaman tembakau ke jenis tanaman lain dan kepada Menteri Perindustrian untuk secepatnya melaksanakan diversifikasi usaha industri rokok ke industri lain, sebagaimana tercantum dalam PP No. 19 Tahun 2003 Pasal 34 Ayat (1) dan (2). Ingatkan aku…

Yogyakarta, 2 Mei 2012

Catatan kaki:

1)      Rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus termasuk cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana tabacum, Nicotiana rustica, dan spesies lainnya atau sintesisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan tambahan.

2)      Nikotin adalah zat, atau bahan senyawa pirolidin yang terdapat dalam Nicotiana tabacum, Nicotiana rustica, dan spesies lainnya atau sintesisnya yang bersifat adiktif dan dapat mengakibatkan ketergantungan.

3)      Tar adalah senyawa polinuklir hidrokarbon aromatika yang bersifat karsinogenik.

7 responses »

  1. adakah rokok yang tidak membahayakan? misal tidak mengandung nikotin atau tar .tapi mengandung vitamin …. Tugasmu ya Mas Hilal..

    • emang ada ya bu? saya kok baru dengar… tapi, menurut saya tidak ada, bu… karena di perundang2an sendiri, definisi rokok pasti mengandung nikotin & tar… jadi, seandainya tidak mengandung 2 senyawa tsb, namanya bukan rokok… tapi kalau ttg rokok herbal itu, bagaimana ya bu???

  2. Ping-balik: Farmasi Melek Hukum (Edisi 5-Alkohol, Kosmetik, Makanan, Narkotika, Rokok, dan Psikotropika) « —nurul.hilalussodik.al.fauzani—

  3. Ping-balik: Perjuangan Merengkuh Apoteker (Semester 1) | ---nurul.hilalussodik.al.fauzani---

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s