Merokok Setengah Hati

Standar

Tulisan ini berisi tentang pendapat pribadiku terhadap Keputusan Dekan Fakultas Farmasi UGM No: UGM/FA/1044/UM/01/39 tentang Kawasan Bebas Asap Rokok di Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada dan Diskusi tentang keputusan tersebut yang diselenggarakan BEM KMFA UGM tanggal 30 Mei 2012.

Saat keputusan dekan tersebut disahkan pada 16 Mei 2012, aku langsung berpikir positif bahwa mungkin ini saatnya para perokok pasif mendapatkan haknya yang selama ini terrampas. Hak untuk menghirup udara bebas di Farmasi UGM tanpa gangguan asap rokok. Namun, setelah aku membaca dengan lengkap isi keputusannya, justru aku merasa kalau kami yang mayoritas mutlak (mungkin seandainya diadakan pemilu, kami menang 1 putaran) telah dirampas haknya secara lebih kejam.

Aku bisa berkata seperti itu, karena lapangan, taman, dan tempat parkir yang dinyatakan sebagai bukan kawasan bebas asap rokok merupakan tempat umum dan terbuka yang semua civitas akademika bisa mengakses dan menjangkaunya dengan bebas. Selain itu, seandainya aku (untung saja bukan) perokok aktif akan merasa malu karena merokok di tempat terbuka dan dapat dilihat siapa saja. Wah, mungkin maksudnya dekan mengeluarkan ide seperti ini agar mereka merasa malu dan berhenti merokok minimal ketika berada di kampus.

Kurangnya sosialisasi juga menjadi pertanyaanku selanjutnya, sehingga wajar jika banyak mahasiswa yang tidak tahu tentang keputusan ini. Untung saja, 2 minggu kemudian, BEM KMFA UGM mengadakan audiensi dengan Pak Ban terkait hal ini. Hari yang ditunggu itu tiba dan seperti biasa acaranya molor serta di awal masih sedikit mahasiswa yang datang.

Akhirnya Pak Ban hadir juga. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa keputusan ini dikeluarkan sebagai bentuk ratifikasi dari Peraturan Rektor UGM No. 29/P/SK/HT/2008 tentang Kawasan Bebas Rokok yang ditetapkan pada 2 Januari 2008 dan bertujuan untuk mengurangi (karena menghilangkan lebih sulit) kegiatan merokok di kampus. Sesi tanya jawab dimulai dan aku mendapatkan kesempatan untuk mengemukakan pendapat. Aku hanya berkomentar 2 hal, yaitu usul adanya ruangan khusus untuk perokok aktif yang terletak di antara unit 6 dan 7 dan surat pernyataan bagi mahasiswa baru mulai angkatan 2012 untuk tidak merokok di kampus.

Tak disangka, tanggapan dari Pak Ban tidak memuaskan aku dan juga teman-teman yang lain. Beliau kurang setuju dengan kedua usulku. Padahal, aku yakin kalau alasan yang aku kemukakan berdasar, jelas, dan rasional. Melalui tulisan ini, aku mencoba untuk menjelaskan lebih lanjut alasan-alasanku sekaligus memberikan jawaban terhadap kekurangsetujuan Pak Ban. Inilah penjelasan dan jawabanku…

  • Menurut Peraturan Rektor UGM No. 29/P/SK/HT/2008 Pasal 10, Tempat Khusus Kawasan Merokok harus memenuhi syarat yaitu terpisah secara fisik dan tidak tercampur dengan kawasan larangan merokok; dilengkapi alat penghisap udara; asbak; dan data atau informasi bahaya merokok → Argumen pak Ban, harus mengeluarkan biaya untuk menjadikan tempat itu layak → Antara unit 6 dan 7, terdapat ruang kosong yang mempunyai atap dan terpencil, sehingga seandainya usulku menjadi kenyataan, perokok aktif akan merasa malas ke sana karena letaknya yang terpencil, hingga akhirnya harapan di awal akan menjadi kenyataan → Perokok pasif jumlahnya cukup banyak kira-kira 800 orang, misal kita iuran 10ribu tiap orang, maka akan terkumpul 8juta rupiah, jumlah yang lebih dari cukup untuk menutup dengan sekat, melengkapinya dengan jendela, asbak, dan data bahaya merokok…
  • Berdasarkan pengamatan, jumlah mahasiswa yang berani merokok di kampus semakin meningkat. Jika di angkatan 2006 dan 2007 hanya ada 1 orang, namun setelahnya, muncul lebih banyak perokok aktif yang pemberani. Aku takut seandainya hal ini dibiarkan, maka angkatan 2012 akan terkontaminasi kakak-kakaknya dan harapan di awal sama sekali tidak terwujud → Aku berpikir bahwa satu-satunya solusi yaitu potong generasi. Mulai angkatan 2012 dan seterusnya diminta dengan penuh kesadaran untuk tidak merokok di kampus. Jika kakak-kakaknya yang pemberani itu telah menyelesaikan studinya, niscaya tidak ada lagi asap rokok yang keluar dari mulut mahasiswa → Harapanku yang lebih besar, dalam setiap rekruitmen pegawai (dosen dan karyawan) juga dilakukan hal serupa → Saat puasa saja yang berlangsung selama 13 jam bisa menahan untuk tidak merokok, masa menahan diri 8 jam di kampus tidak bisa???

Aku berharap kepada BEM KMFA UGM agar bisa memperjuangkan aspirasiku ini… Semoga…

*asap kendaraan bermotor itu berbeda dengan asap rokok…

*tolak CSR dari grup rokok…

*hak perokok pasif yang dilanggar jauh lebih banyak daripada hak perokok aktif… negara kita menganut paham demokrasi, suara mayoritas yang menang…

Yogyakarta, 31 Mei 2012

4 responses »

  1. jadinya yg dijadikan kawasan bebas asap rokok tu kecuali lapangan, taman dan tempat parkir lal? dg kata lain diperbolehkan merokok di lapangan, taman dan tempat parkir?? *jd ngerasa anegh

      • ooh… kenapa g sekalian Farmasi bebas asap rokok ja y? perda jogja kyke dah ada ngluarin area bebas asap rokok salah satunya adalah di sekolah/universitas

  2. Di UU yang di buat pemerintah juga ada tentang larangan merokok di lingkungan pendidikan dan itu berarti fakultas pun harusnya dilarang. Padahal awalnya mendapatkan momen WNTD untuk membebaskan farmasi dari rokok dan terus melobi pak dekan tp masih gagal. perlu strategi lain. hehehehehe. SEMANGAT!!!!!! terimakasih info di blognya mas!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s