Menuju Bangkitnya Farmasi Islam

Standar

Islam merupakan satu-satunya agama yang bersifat menyeluruh (syumul). Sejak bangun tidur hingga akan tidur lagi, kita tidak bisa lepas dari ketentuan Allah. Dalam ruang lingkup yang lebih luas, Islam mengatur segala aspek kehidupan ini, mulai dari sosial, politik, ekonomi, budaya, hukum, dan tak lupa pengobatan (kefarmasian). Contoh dalam bidang kefarmasian yaitu terdapat pada Al Qur’an surat An Nahl ayat 69 yang artinya “… dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia…”.

Tokoh farmasi Islam, Al Biruni (973-1051) dalam bukunya yang berjudul al-Saydanah fi al-Tibb mengemukakan bahwa farmasi adalah seni untuk mengenali jenis, bentuk, dan sifat-sifat fisika dari suatu bahan, serta seni mengetahui bagaimana mengolahnya menjadi obat sesuai dengan resep dokter. Masih menurut Al Biruni, farmasis (al-Saydanani) didefinisikan sebagai sosok yang profesional dalam peracikan dan peramuan obat, memilih bahan terbaik, menyediakan obat terbaik berdasarkan tata cara dan teknik yang tepat, serta mampu menjelaskan asal mula obat, obat-obatan yang penting, dan dosis obat. Berdasarkan pemaparan tersebut, diketahui bahwa Islam memegang peranan penting dalam perkembangan dunia kefarmasian. Jauh sebelum kefarmasian Eropa berkembang, para farmasis Islam sudah menyumbangkan ide dan gagasannya dalam bentuk lisan ataupun tulisan. Apotek pertama kali muncul di Bagdad, Irak sekitar abad kedelapan dan sistem pelayanan kesehatan yang komprehensif didirikan oleh Ibnu Sina, juga di Bagdad.

Kondisi sekarang berbanding terbalik. Dunia kefarmasian Islam mengalami kemunduran yang dimulai saat Khilafah Islamiyah runtuh pada tahun 1924. Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi kita selaku generasi penerus Al Biruni, berusaha untuk mengembalikan kejayaan kefarmasian Islam. Caranya dengan mendekatkan Al Qur’an dan Hadist kepada calon farmasis Islam. Hal ini menjadi titik yang krusial, karena masih banyak calon farmasis Islam yang belum mengetahui dahsyatnya kandungan Al Qur’an dan Hadist dalam bidang kefarmasian. Ketika mereka berhasil memahami dan merasakan ilmu dari Al Qur’an dan Hadist, maka dalam proses selanjutnya yaitu pengembangan ilmu kefarmasian, pasti akan berpedoman kepada dua rujukan tersebut.

Banyaknya umat Islam di Indonesia yang mulai mendalami pengobatan ala nabi (thibbun nabawi), seharusnya dapat dijadikan peluang berkembangnya ilmu kefarmasian Islam, minimal di Indonesia. Penggunaan kurma (Phonex dactylifera), habbatus sauda (Nigella sativa), zaitun (Olea eurofaea), dan madu yang meningkat juga semakin memperluas kesempatan tersebut. Bahkan salah satu MLM syariah di bidang obat-obatan dan makanan yang awalnya hanya beredar Malaysia dan Indonesia, kini mulai merambah ke Asia Tengah dan Afrika.

Meluasnya ranah farmasi saat ini yang meliputi 3 hal yaitu obat, makanan, dan kosmetik hendaknya disikapi dengan bijak. Ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang farmasi yang terus berkembang mengakibatkan bervariasinya ketiga produk tersebut. Di sinilah tantangan bagi farmasis Islam. Mungkin, industri obat sudah menerapkan cGMP (current Good Manufacturing Practice) dalam setiap produksinya, begitu juga dengan industri makanan dan kosmetik yang telah menetapkan standar prosedur operasional. Namun, dalam komposisi bahan-bahannya dan selama proses produksinya, menggunakan bahan yang haram atau halal dan bagaimana produksinya, itu masih menjadi tanda tanya. Masalah tersebut bukanlah masalah yang kecil bagi umat Islam karena mempengaruhi kesempatan terkabulnya doa seseorang.

Sebagai contoh pada produksi obat-obatan sintetis. Sediaan yang berbentuk cair acap kali menggunakan etanol sebagai pelarutnya, terutama pada obat batuk. Selain itu, cangkang kapsul yang dibuat dari gelatin dapat berasal dari tulang atau kulit babi, sapi, atau ikan. Hormon, enzim, dan vitamin yang merupakan produk hasil bioteknologi bisa menggunakan mikroba maupun media yang haram. Plasenta yang terkadang berasal dari manusia mampu meregenerasi sel-sel kulit dan mencegah penuaan, sehingga dimanfaatkan sebagai kosmetik. Teknologi kloning yang dimulai pada tahun 1962 juga mengundang kontroversi dan menyebabkan bukan hanya ilmuwan di bidang rekayasa genetika saja yang berkomentar, melainkan juga melibatkan alim ulama.

Untuk menangkap peluang dan menjawab tantangan di atas dalam rangka mencapai kebangkitan farmasi Islam, membutuhkan peran serta dari farmasis Islam yang berada di semua sektor. Mulai dari akademisi di perguruan tinggi, lembaga dakwah kampus, pemerintah, hingga industri. Di perguruan tinggi, farmasis Islam yang menjadi dosen dapat memasukkan materi kefarmasian Islam dalam mata kuliah agama Islam, seperti yang telah dilakukan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga. Di sana, calon farmasis dikenalkan dengan ilmu-ilmu praktis mengenai kehalalan vaksin, sertifikasi halal, Indonesia sebagai pusat halal sedunia, dan lain sebagainya. Untuk lembaga dakwah kampus, bisa menyelenggarakan kajian, diskusi, ataupun seminar dengan topik yang berkaitan dengan kefarmasian Islam, seperti yang mulai diinisiasi oleh KMMF UGM.

Farmasis Islam yang berada di pemerintahan, melalui BPOM hendaknya memberikan edukasi kepada masyarakat dalam memilih produk yang aman. Untuk  LPPOM (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika) MUI tidak hanya bertugas meneliti, mengkaji, menganalisis, dan memutuskan produk pangan, obat, dan kosmetik aman dikonsumsi dari sisi kesehatan dan Islam, tetapi juga memberikan bimbingan kepada masyarakat umum. Pada Maret 2012 lalu, LPPOM MUI telah meluncurkan buku yang berisi tata cara sertifikasi halal yang dilengkapi dengan informasi tentang persyaratan sertifikasi halal tersebut. Dengan adanya buku tersebut, diharapkan akan mempermudah industri yang ingin mengajukan sertifikasi halal.

Seandainya seluruh sektor yang terkait tersebut melakukan perannya dengan baik, niscaya kebangkitan farmasi Islam akan menjadi kenyataan. Insya Allah… Pertanyaannya, ketika saat itu tiba, apakah kita akan menjadi pelaku sejarah atau hanya sebagai penonton?

Yogyakarta, 31 Mei 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s