UGM dan Da Vinci Code 2

Standar

Rasa keingintahuanku terhadap arti lambang yang terukir di peti pembungkus cryptex mulai menemui titik terang. Susah-susah mencari di internet, ternyata aku malah melupakan hal yang utama, yaitu di mana aku pertama kali tahu tentang lambang itu. Tepat sekali, aku melupakan novel Da Vinci Code.

Berhubung novel “fisik”nya sedang dipinjam adikku, aku menyelami kembali novel best seller itu melalui jalur softcopy. Lebih mudah mencari lewat novel yang softcopy daripada harus membuka satu persatu halaman fisiknya. Cukup memasukkan kata yang akan dicari dan pembaca pdf akan langsung menampilkan hasilnya.

Inilah ringkasan mengenai arti lambang mawar yang mirip lambang UGM tersebut yang terdapat dalam novel Da Vinci Code…

Mawar berkelopak lima adalah simbol Biarawan untuk Holy Grail (Maria Magdalena). Rosa rugosa adalah salah satu jenis mawar yang tertua, memiliki lima kelopak dan segi lima yang simetris, persis seperti bintang penunjuk Venus.

Menurut pemuja dewi yang primitif, lima kelopak itu berarti lima fase dalam kehidupan perempuan: melahirkan, menstruasi, menjadi ibu, menopause, dan mati. Di zaman modern, mawar mekar disamakan dengan alat kelamin perempuan, kemekaran yang mulia, tempat awal manusia memasuki dunia.

Selain itu, Mawar mempunyai ikatan erat dengan konsep “penunjuk yang terpercaya” dan navigasi. Mawar Kompas membantu pengembara menentukan arah, seperti Garis Mawar (Rose line) yang merupakan garis-garis bujur dalam peta. Oleh karena itu, Mawar merupakan simbol yang berarti Grail pada banyak tingkatan-kerahasiaan, keperempuanan, dan petunjuk-.

Dari informasi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa lambang UGM berbeda dengan ukiran mawar pada peti pembungkus cryptex. Lima songkok bewarna putih (topi kebesaran panglima) yang diselingi lima tombak berwarna kuning tentu berbeda maknanya dengan lima kelopak bunga mawar. Bentuknya yang mirip, mungkin bukan merupakan kesengajaan dari kreativitas pembuat lambang UGM.

Apapun hasilnya, aku belajar satu hal dari rasa keingintahuan ini, yaitu jas merah (jangan sekali-kali melupakan sejarah)…

Yogyakarta, 9 September 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s