Nestapa di Italia, Digdaya di Eropa

Standar

Musim 1982-1983 berakhir tragis untuk Gaetano Scirea, Michel Platini, Paolo Rossi (Pemain terbaik Eropa 1982), dan pemain Juventus lainnya. Sempat unggul 3 poin dari pesaing terdekatnya, sang juara bertahan harus menghuni tangga kedua di akhir musim, karena posisi puncak direbut AS Roma. Setali tiga uang keadaan di Eropa. Meskipun diunggulkan di final, ternyata dewi fortuna belum juga menaungi mereka. Gol tunggal Felix Magath (Hamburg) sukses menghancurkan mimpi anak asuh Giovanni Trapattoni untuk merebut gelar Piala Champions pertama. Beruntung, luka bertubi-tubi itu segera diobati dengan memenangkan gelar hiburan Piala Italia setelah mengalahkan Verona di final dengan total skor 2-3.

Musim berikutnya, Juventus harus merelakan perginya dua bintang mereka. Dino Zoff memutuskan untuk gantung sarung tangan dan Roberto Bettega pindah ke Kanada. Padahal, musim itu Juventus harus bermain di dua kompetisi, Seri A dan Piala Winners. Pada musim 1983-1984, kompetisi klub Eropa terbaik masih bernama Piala Champions dan hanya bisa diikuti oleh juara liga domestik. Oleh karena itu, Juventus mendapatkan jatah untuk mengikuti Piala UEFA (sekarang Liga Eropa atau Europa League). Akan tetapi, karena Juventus meraih gelar Piala Italia, maka mereka bertarung di kompetisi terbaik kedua bersama klub lainnya yang merengkuh gelar piala domestik, yaitu Piala Winners (European Cup Winners’ Cup) (Gambar 1). Dari sinilah kisah manis ini dimulai…

Gambar 1. Trofi Piala Winners

Perjalanan panjang nan melelahkan Juventus di Piala Winners 1983-1984 berawal dari Stadion Mussolini atau Stadion Comunale Vittorio Pozzo, Turin. Pada pertandingan pertama babak pertama, mereka menjamu wakil Polandia, Lechia Gdansk. Tanpa ampun, gawang lawan digelontor 7 kali dan Lechia gagal membalas 1 gol pun. Ketujuh gol disumbangkan oleh 3 pemain saja. Michel Platini mencetak 2 gol, Domenico Ponzo 4 gol, dan pesta ditutup oleh 1 gol dari Paolo Rossi.

Pertandingan kedua babak pertama berlangsung di markas Lechia yaitu Stadion MOSiR, 2 pekan sesudahnya. Kali ini, tuan rumah tidak ingin dipermalukan di depan pendukungnya sendiri. Hingga menit ke-74, Lechia unggul 2-1 atas tamunya. Namun, Juventus tidak tinggal diam. Di sisa waktu yang ada, mereka sukses mencetak 2 gol, sehingga skor menjadi 2-3. Ketiga gol Juventus dipersembahkan oleh Beniamino Vignola, Roberto Tavona, dan Zbigniew Boniek. Juventus lolos ke babak kedua dengan total skor 10-2.

Babak kedua, Juventus bertemu dengan klub Perancis yang saat ini menjelma menjadi klub kaya raya, Paris Saint-Germain. Pertandingan pertama dilaksanakan di Stadion Parc des Princes, Paris pada tanggal 19 Oktober 1983. Bermain dalam determinasi tinggi, Juventus sempat unggul 2-1 lewat gol Zbigniew Boniek dan Antonio Cabrini. Ternyata, PSG mampu menyamakan kedudukan pada menit ke-89. Skor akhir 2-2 dan Juventus selaku tamu mendapatkan keuntungan karena untuk lolos ke babak berikutnya hanya perlu imbang 0-0 atau 1-1 di pertandingan kedua.

Bermain di kandang sendiri, Juventus malah gagal menampilkan permainan terbaiknya. Kondisi pada pertandingan kedua ini berbeda 180o dengan pertandingan sebelumnya. Tensi permainan datar-datar saja dan kedua klub mengalami kesulitan untuk mencetak gol ke gawang lawan. Peluit panjang berbunyi dan tidak ada gol yang tercipta, skor akhir imbang kacamata alias 0-0. Walaupun total skor imbang 2-2, namun Juventus yang melaju ke babak perempat final karena dapat mencetak gol di kandang lawan.

Jeda antara babak kedua dengan babak perempat final sekitar 4 bulan. Mungkin karena jedanya terlalu lama dan harus membagi konsentrasi di Seri A pula, Juventus mulai menemui kesulitan untuk mengalahkan lawannya. Menghadapi Haka (Finlandia) di Stadion de la Meineau, Strasbourg, Juventus harus menunggu menit ke-90 untuk membawa pulang kemenangan ke Turin. Pemain Juventus yang mencatatkan namanya di papan skor yaitu Beniamino Vignola. 1-0 untuk Juventus,

Tidak mau mengambil resiko, pada pertandingan kedua, Juventus langsung menggebrak sejak menit pertama.  Hasilnya, Marco Tardelli membuat Juventus unggul 1-0 pada menit ke-14. Terus-menerus menyerbu pertahanan Haka, pemain-pemain Juventus tetap tidak bisa menambah gol. Kokohnya lini belakang Haka ditambah penyelesaian di depan gawang yang kurang sempurna, menyebabkan skor akhir tetap 1-0. Juventus menapak semi final dengan total skor 2-0, lemahnya penyelesasian akhir ditutupi pertahanan yang tidak kebobolan 3 pertandingan beruntun.

Perjuangan Juventus semakin berat, karena di semi final harus bertemu seteru utama mereka di Eropa, Manchester United (Inggris). Penuh sesaknya Stadion Old Trafford, Manchester oleh pendukung tuan rumah, tidak melemahkan mental Juventus dan justru mereka tampil lepas tanpa beban. Gol Paolo Rossi pada menit ke-14 menyebabkan 50.000 lebih pasang mata terdiam. Dua puluh dua menit berselang, MU berhasil membuat gol penyama kedudukan sekaligus gol terakhir pada pertandingan itu. Hasil imbang 1-1 di kandang lawan disyukuri oleh seluruh pemain Juventus, sementara MU berharap keajaiban terjadi di Turin.

Semi final kedua di Turin menjadi saksi betapa hebatnya semangat juang dan pantang menyerah dari seluruh punggawa Juventus. Pertandingan telah memasuki menit ke-88 dan skor masih imbang 1-1. Sebelumnya, Zbigniew Boniek menggetarkan gawang MU pada menit ke-13 dan dibalas pada menit ke-70. Ketika itu, semua penonton mengira pertandingan akan dilanjutkan dengan perpanjangan waktu. Namun, keajaiban itu terjadi. Bukan untuk MU, melainkan untuk Juventus. Paolo Rossi (sekali lagi) membuktikan bahwa gelar Pemain terbaik Eropa 1982 yang didapatkannya memang tepat. Golnya pada menit ke-89 memastikan kemenangan Juventus atas MU dan mengantarkan klub kebanggaan Turin tersebut melangkah ke final Piala Winners untuk pertama kalinya.

Final Piala Winners musim 1983-1984 yang mempertemukan Juventus dan Porto (Portugal) berlangsung di Stadion St. Jakob, Basel (Swiss) pada tanggal 16 Mei 1984. Porto masuk ke final setelah menyingkirkan Dianmo Zagreb (Kroasia), Rangers (Skotlandia), Shakhtar Donetsk (Ukraina), dan Aberdeen (Skotlandia). Berdasarakan catatan perjalanan Porto, terlihat kualitas mereka di bawah Juventus bahkan di dua babak awal, mereka lolos hanya karena unggul gol tandang. Oleh karena itu, penikmat sepak bola lebih mengunggulkan Juventus untuk membawa pulang Piala Winners.

Disaksikan sekitar 55.000 penonton, kedua klub memainkan sepak bola terbuka. Porto mengandalkan kemampuan individu pemain, sedangkan Juventus bertumpu kepada kolektivitas tim. Menit ke-13, stadion bergemuruh. Beniamino Vignola menyarangkan bola melewati penjaga gawang Porto, Ze Beto. Gelandang Porto, Antonio Sousa membawa Porto mengimbangi Juventus pada menit ke-29. Zbigniew Boniek sang Bello di netto atau keindahan di malam hari menjadi pahlawan bagi Juventus, setelah pada menit ke-41 ia menjebol gawang Ze Beto. Skor 2-1 bertahan hingga wasit asal Jerman, Adolf Prokop meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan.

Inilah gelar Eropa pertama (Gambar 2) bagi Juventus dalam kurun waktu 1980-an, gelar yang membuka keran gelar-gelar berikutnya di tingkat Eropa dan dunia termasuk meraih Piala Champions pada musim berikutnya. Inilah satu-satunya gelar Piala Winners yang menjadikan Juventus sebagai klub pertama yang mampu memenangi 3 kejuaraan tertinggi UEFA dan satu-satunya klub Eropa yang memenangi seluruh kejuaraan resmi yang diakui FIFA di tingkat kontinental (UEFA) dan dunia.

Gambar 2. Kegembiraan para pemain Juventus – ©Getty Images

Jakarta, 14 Oktober 2012

Catatan: Data diambil dari Wikipedia

One response »

  1. Ping-balik: 17 Alasan Aku Membanggakanmu, Juventus « —nurul.hilalussodik.al.fauzani—

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s